Bagaimanakah Kita Bermedia Sosial ?

Sumber : Buletin at Tauhid 
Zaman sekarang ini siapa sih yang tidak kenal dengan medsos (media sosial)? Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Telegram, Path, dan media sosial lainnya. Terlebih lagi bagi kaula muda, medsos bagi mereka seakan akan sudah menjadi kebutuhan hidup. Tiada hari tanpa bermedsos katanya. Bahkan, saking luasnya dampak medsos ini, anak usia SD pun banyak pula yang sudah bermedsos.

Nah bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai seorang muslim dalam bermedia sosial? Adakah aturan atau kaidah yang perlu kita perhatikan di dalamnya? Yuk, kita simak beberapa penjelasan berikut.

1. Mem-posting yang baik-baik saja

Sesungguhnya setiap postingan yang kita tulis atau kita share di media sosial sama hukumnya sebagaimana perkataan yang kita ucapkan. Dan ketahuilah, setiap postingan kita ini akan dicatat dan dipertanyakan kelak di akhirat.

Allah berfirman (yang artinya), “Tiada suatupun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaf  : 18)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan bahwasanya malaikat yang senantiasa hadir mengawasi ini akan mencatat setiap perkataan yang diucapkan oleh manusia. Tidak satu kalimat pun yang terluput dari pencatatan ini.

Dalam ayat lain, Allah menyatakan bahwa setiap kebaikan atau kejelekan sekecil apapun kelak akan kita lihat balasannya di akhirat. 

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzala : 7-8)

Jika demikian, maka kaidah pertama yang perlu kita perhatikan dalam bersosial media adalah janganlah kita mem-posting atau men-share sesuatu kecuali yang baik-baik saja. Bisa dalam bentuk berdakwah di medsos, ber-amar ma’ruf nahi munkar, memberikan informasi yang bermanfaat dalam perkara dunia atau akhirat, dan hal-hal baik lainnya.

Hal ini juga sejalan dengan apa yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam” (HR. Bukhari dan Muslim)

Janganlah kita jadikan media sosial kita sebagai tempat untuk berkeluh kesah, mencela, atau mengumbar aib orang lain. Jangan pula kita gunakan media sosial kita sebagai ajang untuk menambah dosa jariyyah dengan memposting foto tanpa aurat misalnya (bagi wanita), apalagi dengan menampakkan aurat, memposting atau men-share tulisan yang di dalamnya mengandung dosa dan perkara maksiat.

2. Memperbanyak teman yang shaleh

Kaidah kedua dalam bermedia sosial adalah hendaknya kita memperbanyak teman-teman yang sholeh di dunia maya. Teman yang sholeh tidaklah mem-posting sesuatu di media sosialnya kecuali hal-hal yang baik saja. Kita bisa memperoleh ilmu agama yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita dari teman kita tersebut. Sejelek apapun kita, apabila kita berteman dengan teman yang baik, sedikit banyak ia akan mempengaruhi kita Mungkin dengan membaca postingan yang ia tulis atau share, Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita, menggerakkan hati kita untuk bertaubat. Atau kita jadi mengetahui perkara-perkara ilmu agama yang sebelumnya banyak tidak kita ketahui.

Nabi kita pernah memberikan perumpamaan mengenai teman yang shaleh ini. Beliau bersabda, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarata seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatakan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatakan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Jangan berdusta meskipun bercanda

Terkadang kita merasa jenuh ketika berselancar di dunia maya. Demi menghilangkan kejenuhan ini, kita pun mencari-cari artikel, video, meme yang dapat membuat kita tersenyum atau tertawa. Saking lucunya, kita pun men-share postingan tersebut di media sosial kita agar kita bisa menghibur teman kita yang lain. Hal ini sah-sah saja dan diperbolehkan. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga bercanda.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Beliau menjawab, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar” (HR. Ahmad, shahih)

Yang perlu diperhatikan, janganlah kita men-share artikel, video, ataupun meme untuk bercanda namun mengandung kedustaan di dalamnya. Sungguh Nabi telah melarang kita untuk berdusta ketika bercanda.

Nabi bersabda, “Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang lain tertawa, celakalah ia celakalah ia” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)

4. Jangan sembarangan share informasi

Di medsos, seringkali kita temui orang- orang yang bersemangat dalam membagikan informasi. Saking semangatnya, mereka tidak menyaring lagi apa yang mereka bagikan. Setiap kali mereka lihat sebuah postingan yang menurut mereka bagus, tanpa pikir panjang mereka langsung membagikannya. Ternyata setelah dicek, apa yang mereka share itu tidaklah benar. Entah itu hoax, entah itu hadits palsu atau lemah, entah pula berita yang belum pasti kebenarannya. Mereka men-share berita dari media atau orang yang tidak diketahui kejujuran dan kehati- hatiannya dalam menyampaikan berita Terlebih parah lagi, terkadang berita yang dishare berasal dari media/orang yang sudah terkenal sering salah dan tidak adil dalam menyampaikan berita Allah telah memerintahkan kita di dalam Al Qur’an agar senantiasa mengecek kebenaran dari sebuah berita.

Allah berfirman (yang artinya), “Hai orang- orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Al Hujurat 6)

5.Jangan suka berdebat di medsos

Hal lain yang penting untuk diperhatikan jangan jadi medsos sebagai ajang berdebat. Terlebih khusus lagi apabila anda termasuk orang yang sering menjadikan medsos Anda sebagai sarana untuk berdakwah Sampaikan saja, namun tinggalkanlah debat meskipun anda berada di pihak yang benar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar” (HR. Abu Dawud, hasan).

Menyampaikan kebenaran atau mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban bagi seorang muslim. Apabila penjelasan diterima, alhamdulillah. Namun jika tidak, maka tinggalkanlah perdebatan. Ini dalam permasalahan agama. Maka bagaimanakah lagi dalam perkara dunia? Tidak layak lagi seseorang untuk berdebat dalam perkara dunia.

Dalam hadits lain disebutkan bahwasanya orang yang suka berdebat adalah orang yang dimurkai oleh Allah Nabi bersabda,  “Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat.” (HR. Bukhari)

Mendebat dalam hadits di atas maksudnya adalah mendebat dengan cara batil atau tanpa ilmu.

6.Tidak mencela pemerintah di medsos

Kaidah terakhir dalam bermedia sosial adalah hendaknya kita tidak menggunakan media sosial kita untuk mencela pemerintah. Prinsip ahlus sunnah wal jama’ah dalam menasehati pemerintah adalah dengan menyampaikan secara langsung, bukan mencela di belakangnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya dan sampaikan nasihatnya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajibannya.” (HR Ibnu Abi Ashim)

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata “Tidak boleh merendahkan pemerintah atau mencelanya di majelis-majelis, di khutbah-khutbah, atau di ceramah-ceramah.” (Mafhumul Bai’ah, hal. 18)

Ya, mungkin berat bagi sebagian besar kaum muslimin untuk tidak melakukan ini. Mereka geregetan melihat kondisi pemerintahan sekarang sehingga mereka pun curhat, menjelek-jelekkan pemerintah di medsos. Namun hendaknya kita mengikuti nasehat Nabi atas dalam berinteraksi dengan pemerintah.

Demikian tulisan kami yang sedikit ini, masih banyak kaidah dalam bermedia sosial namun semoga beberapa point penjelasan di atas dapat mewakili sebagian besar kaidah dalam bermedsos. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi kaum muslimin pada umumnya.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis : Boris Tanesia, S.T (Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s