Mereka Yang Lari


Belantara dakwah yang penuh liku-liku dan onak serta duri (namun menjanjikan gemerlapan cahaya Allah dan kenikmatan surga) kadang dimasuki orang dengan tanpa kemapanan niat, konsep bahkan sikap mantap.

Inilah contoh beberapa kasus mereka yang pernah meniti jalan dakwah bersama kita namun karena beberapa hal menjadikan mereka lari dari harapan dan janji dakwah yang mempesona ini.
Tentu pelajaran dari liku kehidupan mereka sangatlah bermanfaat.

1. Kasus ‘Eal’
Eal sebut saja demikian. Dalam kepastian sebagai orang kampung, seorang ibu, bolehlah harapan dakwah ini kita bebankan padanya lebih-lebih dia punya ledakan dakwah yang cukup lumayan dibanding ibu-ibu yang lain. Eal rasanya menjadi sosok contoh dari perjalanan kehidupan seorang muslimah menurut ukuran angan-angan, hanya lulusan SMP tapi cerdas, hidup dengan mertua yang baik, punya suami yang membiarkan dia aktif, punya anak yang tidak banyak ‘polah’.

Paling tidak misi selaku pendobrak dakwah Islam dapat dukungan kuat dan tentunya setia.
Sehingga kaget, ketika dihadapan kita Eal berkilah, “Maaf teman – teman karena saya sekarang sudah punya anak-anak maka saya serahkan tugas dakwah pada teman-teman, ditunjang saya sekarang tidak boleh suami lagi.”
Demikian kata Eal, tokoh kita, menutup pembicaraan dan dengan langkah terburu-buru menyambut suami yang menjemput dengan motor kredit yang 3 bulan sebelumnya baru dikabulkan. 

2. Kasus Nawdir
Dalam kacamata harapan dakwah, Nawdir rasanya cukup representatife untuk menjadi kader dambaan sebagai salah satu perintis keberadaan kajian Al Quran. Cukup luas kita menyerap pemikiran dan cita-citanya tentang dakwah dimana harapan merintis kehidupan mendatang demikian gamblang di pelupuk mata.
Masa kuliah dilalui di Surabaya dengan naik sepeda pancal reyot yang dibawa dari daerah pelosok Jatim, aktif ngaji di kita dan tidak segan menggilai kegiatan formal Organisasi pelajar Islam.

Karena ketelatenannya akhirnya dia menduduki orang kepercayaan di lembaga kita. Entah angin apa yang membawa dia berubah total setelah ia diberi amanat uang, dia menjadi orang yang seakan-akan tidak pernah mengenal Islam. Dan lenyaplah dia beserta uang itu.

Dan kita pun akan merenung heran ketika di hadapan kita telah melangkah tipe-tipe nawdir-wan dan nawdir-wati yang sudah tidak terbilang jumlahnya. Mungkin juga termasuk kita di masa mendatang. (Naudzubillah

3. Kasus Dafi
Setelah dapat jabatan mapan di lembaga pendidikan dan tetap sebagai juru dakwah di beberapa LP alangkah senangnya ketika akhirnya mendapatkan tambatan hati yang juga sevisi dan semisi dalam arena perjuangan.
“Sungguh ideal”, itu gema beberapa teman-teman yang belum menikah. Ternyata benturan-benturan dalam kehidupan menjadikan lain. Realita yang pernah tertanam bahwa tidak boleh menjadi “mantan pejuang Islam”, katanya tempo dulu.

Dahsyatnya benturan-benturan hidup dari ekonomi, konflik dengan mertua karena lelah mengasuh anaknya, pembantu yang pulang, jabatan yang akhirnya lepas karena tidak berkualitas lagi, dll.

Jadi aku harus bagaimana?! Memang aku salah, kenyataan sekarang, tidak mungkin menjadikan aku seperti dulu.

‘Bagaimana dengan hati nuranimu Dafi?’ Tanyaku.’

Entahlah, mungkin setelah anakku besar akan mau dakwah lagi dan perjuangan kan tidak disini saja!?’ Katanya mulai berakting sendu dan minta perhatian dan ala kadar jawabnya.
Kalau saja Shibgoh Al Quran masih melapisi kehidupan Dafi, kalau saja kamu masih malu pada materi-materi yang kamu dakwahkan dulu secara rutin. Kalau saja dirimu masih bisa menjaga keikhlasan teman-temanmu yang dengan tulus membantu pra nikahmu, gawe nikahmu sampai kelahiran anakmu.
Demikian desisku sebagai isyarat masih mencoba menyentuh ghirah (cemburu) dakwahnya sebagai sosok yang PEKA bukan PEKOK. 

Dalam kisah di atas memang bukan kisah fiksi namun kenyataan perjalanan sejarah itu tentulah tidak patut untuk ditelusuri siapa mereka. (sehingga pembaca tidak usah bertanya siapa ya mereka itu?) 

Bahkan kita sendiri mungkin bisa terkena wabah ini. Inilah cermin buta, semua tinggalkan dakwah, silahkan! Tetapi Allah Maha Penetap dan Penepati Janji

“AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI GODAAN SYETAN…..”
(NB: godaan syetan bisa saja pasangan hidup, anak, harta).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s