Ramadhan

​“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS.  Al Baqarah: 185)

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An Nahl: 89)

Sesuai ayat di atas bahwa Al Quran berfungsi untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, pembeda, rahmat dan kabar gembira. Jadi, rujukan utama seorang muslim dalam melakukan perbuatan/amal adalah Al Quran Karim. Apakah ibadah yang kita lakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan? Apakah pemahaman kita sudah berdasarkan/berlandaskan Al quran?

Bertepatan dengan bulan turunnya Al Quran, Ramadhan, marilah kita menengok kembali ibadah yang kita lakukan selama ini sebagai bahan muhasabah diri agar sesuai dengan al Quran, khususnya, ritual ibadah yang banyak dilakukan di bulan Ramadhan ini, jangan sampai kita tejerumus pada bid’ah dan syirik tanpa kita menyadarinya. Bid’ah termasuk kesesatan yang berujung di neraka dan syirik termasuk dosa yang tidak akan diampuni (kecuali dengan taubatan nasuha).

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh dia telah tersesat jauh sekali.” (QS. An Nisa 116)


Ibadah kita ketika menyambut ramadhan, memasuki awal bulan ramadhan, sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, sepuluh hari terakhir, dan saat Hari Raya dapat kita kembali pelajari satu persatu aturannya dan tata caranya dalam al Qur’an dan As Sunnah untuk mengetahui kebenarannya.

Dari punggahan, nyadran, mandi suci ‘ruwahan’, Selametan dengan jenis makanan tertentu, ziarah ke makam leluhur atau orang yang dianggap berjasa, nyekar, kirim do’a untuk leluhur, megengan, meminta maaf kepada para tetangga, doa-doa tertentu di bulan ramadhan, cara membangunkan sahur, membaca niat puasa, peringatan Nuzulul Quran, Shalat tarawih, malem selikuran, penentuan awal dan akhir ramadhan, takbiran semua harus kita telaah kembali untuk menguatkan kebenarannya.

Kenapa kita mesti melakukan hal ini? Agar kita selalu terjaga dari perbuatan bid’ah, syirik dan kufur. Syirik dapat menghapus seluruh amal yang kita lakukan, seperti dijelaskan pada ayat di bawah ini.

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s