Ikutilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing dan gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu (maksudnya pegang dengan erat sunnah itu -pen)” (HR. Tirmidzi, ia berkata, “hadits ini hasan shahih”)

Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ittiba’ (mengikuti Rasulullah) tidak akan terwujud kecuali jika amalan itu dikerjakan sesuai syariat dalam 6 (enam) sisi, yaitu :

(1) Sebab. Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari’atkan maka ibadah tersebut termasuk bid’ah dan tidak diterima. Contoh Apabila ada orang yang melakukan shalat tahajud khusus pada malam 27 di bulan Rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ibadah tersebut termasuk bid’ah. Hal ini karena shalat tahajud dikaitkan dengan sebab yang tidak disyariatkan.

(2) Jenis. Ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Contoh Seorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah karena menyalahi ketentuan syari’at dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi dan kambing.

(3) (ukuran) Kadar. Kalau seseorang menambah bilangan raka’at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan maka shalat tersebut termasuk bid’ah dan tidak diterima karena tidak sesuai dengan ketentuan syari’at dalam jumlah bilangan rakaatnya. Jadi, apabila ada orang mengerjakan shalat zhuhur 5 (lima raka’at dengan sengaja maka shalatnya tidak Sah.

(4) Kaifiyah (cara). Seandainya ada orang berwudhu dengar cara membasuh tangan lalu muka maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syari’at.

(5) Waktu. Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan Dzulhijjah maka tidak sah karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam.

(6) Tempat. Jika ada orang beritikaf bukan di masjid maka tidak sah karena tempat i’tikaf hanyalah di masjid. Begitu pula, jika ada seorang wanita hendak beri’tikaf di dalam mushalla di rumahnya maka tidak sah karena tempatnya tidak sesuai dengan ketentuan syari’at. (Disarikan dari Risalah Al lbda’ fii Bayani Kamalisy Syari wa Khothorul lbtida karya Syaikh Utsaimin hal. 21-24)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s