Ayat dan Hadist Tentang Menikahkan Anak

Manusia adalah makhluk sosial dan menurut fitrahnya adalah menikah. Sebagai mana firman Allah SWT, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan suatu ayat (mu’jizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu).” (QS. Ar-Ra’du: 38)

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. (HR. Bukhari no. 1905, 5065, Muslim no. 1400).

Bila anak telah memasuki usia siap nikah, maka nikahkanlah. Jangan biarkan mereka terus tersesat dalam belantara kemaksiatan. Do’akan dan dorong mereka untuk hidup berkeluarga, tak perlu menunggu memasuki usia senja.

Bila muncul rasa khawatir tidak mendapat rezeki dan menanggung beban berat kelurga, Allah berjanji akan menutupinya seiring dengan usaha dan kerja keras yang dilakukannya, sebagaimana firman-Nya, “Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)

Ayat Qur’an dan Hadist Tentang Mengajari Anak Membaca Al Qur’an dan mendidiknya

Thabrani meriwayatkan dari Jabir Bin Samurah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Bahwa salah seorang di antara kalian mendidik anaknya, itu lebih baik baginya dari pada menyedekahkan setengah sha’ setiap hari kepada orang-orang miskin.”

Mengajarkan anak ayat dan juga akhlak alquran ini adalah kewajiban ibu dan bapak.

Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ali ra, “Ajarkanlah tiga hal kepada anak-anak kalian, yakni mencintai nabi kalian, mencintai keluarganya dan membaca al-qur’an. Sebab, para pengusung al-qur’an berada di bawah naungan arsy Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya, bersama para nabi dan orang-orang pilihanNya. Dan, kedua orang tua yang memperhatikan pengajaran al-qur’an kepada anak-anak mereka, keduanya mendapatkan pahala yang besar.”

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat(yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha :132)

Membiasakan berakhlak Islami dalam bersikap,berbicara, dan bertingkah laku, sehingga semua kelakuannya menjadi terpuji menurut Islam.

Selain itu, orangtua juga perlu mengajarkan rasa malu sedini mungkin pada anak-anak.

Menanamkan etika malu pada tempatnya dan membiasakan minta izin keluar/masuk rumah, terutama ke kamar orang tuanya, teristimewa lagi saat-saat zhaiirah dan selepas shalat isya’.(Al-qur’an surat Annuur ayat 56)

Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, Rasulullah saw bersabda, “perintahkanlah anak anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah agar mereka menunaikannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Menyusui Anak Dalam Islam

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah 233]

Banyak penelitian ilmiah dan penelitian medis yang membuktikan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak secara alami dan sehat, baik dari sisi kesehatan maupun kejiwaaan.

Ibnu sina, seorang dokter kenamaan, menegaskan urgensi penyusuan alami dalam pernyataannya, “Bahwasanya seorang bayi sebisa mungkin harus menyusu dari air susu ibunya. Sebab, dalam tindakannya mengulum puting susu ibu terkandung manfaat sangat besar dalam menolak segala sesuatu yang rentan membahayakan dirinya.”

Jika memang air susu ibu tidak keluar, maka carikanlah ibu susu dengan akhlak yang baik sebagaimana ibunda nabi Muhammad shalallaahu alaihi wassalaam melakukannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’. ” (HR Al-Hakim) – Asy-Syaikh Muqbil rahimahullaah dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili”.

Memberi Nama Yang Baik Kepada Anak Adalah Kewajiban Orang Tua

“Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (HR.Abu Dawud)

Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Anak itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelih sebagai tebusannya pada hari ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta dicukur kepalanya”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 38]


Pemberian nama yang baik untuk anak bisa dilakukan sambil melaksanakan aqiqah. Memberikan nama dengan arti buruk untuk anak sama saja berbuat durhaka pada anak kita. Misalnya memberi nama anak kata-kata yang ada dalam Al Quran, tapi ternyata artinya adalah nama neraka, atau nama setan, atau yang berarti buruk lainnya.

1. Nama Abdullah dan Abdurrahman berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132) Karena nama tersebut adalah nama terbaik, sampai-sampai di kalangan para sahabat terdapat sekitar 300 orang yang bernama Abdullah.

2. Memberi nama dengan nama para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akhlak yang paling mulia dan memiliki amalan yang paling bersih. Diharapkan dengan memberi nama seorang anak dengan nama nabi ataupun rasul dapat mengenang mereka juga karakter dan perjuangan mereka. Nabi sendiri juga pernah menamakan anaknya dengan nama Ibrahim, nama ini juga beliau berikan kepada anak sulung Abu Musa dan beliau juga menamakan anak Abdullah bin Salaam dengan nama Yusuf.

3. Memilih nama yang mengandung sifat yang sesuai orangnya (namun dengan syarat nama tersebut tidak mengandung pujian untuk diri sendiri, tidak mengandung makna yang buruk atau mengandung makna celaan). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang dha’if dari Abu Wahb al-Jusyami bahwasannya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pakailah nama para nabi, nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, yang paling benar adalah nama Harits dan Hammam dan yang paling jelek nama Harb dan Murrah.” (HR. Abu Daud dan An Nasai. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi sebagaimana disebutkan dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1977)

Kisah Umar Bin Khattab Tentang Hak Anak Terhadap Orang Tua

​Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khattab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal.

Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?”

Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”

Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

Dari kisah Umar bin Khaththab tersebut, kita bisa mengetahui bahwa ketika hendak menikah, jangan hanya memilih calon suami atau istri, tapi juga memilih calon ayah dan calon ibu yang baik untuk anak kita kelak.

Jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam mencarikan calon orangtua terbaik untuk anak kita kelak, sama saja kita telah melanggar hak anak untuk dilahirkan dari rahim seorang ibu yang baik, dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dari sang ayah.

Mengajari Buah Hati Kita Membaca Al Qur’an

Dari ‘Utsman radhiyallahu’anhu,  dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari no.5027)

Berikut kami berbagi tips tentang bagaimana mudah mengajari buah hati kita membaca al-qur’an.

Sebelum kita membacakan kepada anak kita ayat-ayat al qur’an, kita harus terlebih dahulu yakin bahwa anak kita telah benar-benar fokus dan menyimak apa yang kita baca. Supaya hal tersebut dapat dengan mudah terwujud berikut beberapa hal yang perlu orang tua ketahui :

  • Anak menyimak bacaan ayat qur’an sehingga sanggup menirukan setiap harakat, huruf dan wakaf secara benar.
  • Bacaan atau lantunan yang merdu akan membuat anak menjadi khusyu’ dan menghormati setiap bacaan qur’an. Selain itu juga melatih anak panjang pendek harakat dan tajwid.
  • Alangkah lebih baik jika orang tua tidak terlalu memaksa anak agar cepat bisa lancar membaca al qur’an. Memberinya bacaan-bacaan yang ringan terlebih dahulu dan menjelasakan makna ayat perayat akan memudahkan sang buah hati dalam mempelajari qur’an.
  • Sering memutarkan lantunan/melantunkan ayat al qur’an kepada buah hati.
  • Anak diminta membaca ayat dari suatu surat sepenggal demi sepenggal lebih dari sekali. (Mengulang-ulang tapi juga perlu diketahui tingkat kebosanan sang anak).
  • Orang tua atau pengajar dianjurkan segera membenarkan bacaan qur’an anak yang salah tanpa harus menundanya. Hal ini dilakukan untuk menghindari lupa dan membiasakan sang buah hati selalu benar bacaannya sampai dewasa kelak.
  • Jika buah hati yang sedang belajar membaca qur’an lebih dari satu orang, suruh salah satu diantara mereka membaca dan yang lain menyimak serta mengkoreksi. Begitu terus menerus dan dilakukan secara bergantian.
  • Untuk beberapa karakter anak ada yang bertipe mudah menyerap pelajaran jika ia paham makna dari apa yang ia pelajari. Biasakan mendiskusikan arti atau makna suatu ayat (yang ringan-ringan terlebih dahulu).
  • Jangan lupa memberitahu kepada buah hati bahwa membaca qur’an adalah perintah agama yang mana melakukannya akan mendapat pahala yang besar dari Allah SWT.
  • Orang tua atau pengajar harus mempunyai target untuk progress bacaan qur’an anak, dengan melihat kemampuan anak dalam menangkap pelajaran.

Untuk saat ini hanya beberapa tips di atas saja yang bisa kami berikan. Mungkin seiring berkembangnya zaman berkembang pula metode pengajaran menuju ke arah lebih baik. Perlu diingat bahwa mengajar si buah hati membaca al qur’an hal yang paling dibutuhkan adalah kesabaran. Karena ibu dari segala kerja keras adalah sabar. 

Yayasan Sekar Mentari – Penitipan Anak, Play Group, Taman Kanak-Kanak —-> Kabupaten Sidoarjo

Membukan pendaftaran murid baru (setiap hari).

Yayasan Sekar Mentari —> Perumahan Puri Indah Blok R-12, Sidoarjo, Jawa Timur.
No.Tlp 081354584837 & 085331433385
Instagram : sekarmentari.yayasan
Facebook : Sekar Mentari

https://www.facebook.com/YayasanSekarMentari/

https://sekarmentariyayasan.wordpress.com/

#PenitipanAnak #PlayGroup #TamanKanakKanak #LembagaBimbinganBelajar #KoperasiOrganik #BiroDakwah

Contact Person Yayasan Sekar Mentari (Penitipan Anak – Play Group – Taman Kanak-Kanak – Lembaga Bimbingan Belajar – Koperasi Organik – Biro Dakwah)

Yayasan Sekar Mentari —> Perumahan Puri Indah Blok R-12, Sidoarjo, Jawa Timur.

No.Tlp 081354584837 & 085331433385
Instagram : sekarmentari.yayasan
Facebook : Sekar Mentari
https://www.facebook.com/YayasanSekarMentari/
https://sekarmentariyayasan.wordpress.com/

#PenitipanAnak #PlayGroup #TamanKanakKanak #LembagaBimbinganBelajar #KoperasiOrganik #BiroDakwah

3 Tipe Belajar Anak


Setiap anak memiliki kemampuan dan karakter belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu diperlukan pendekatan dan teknik mengajar yang berbeda juga.

Di sekolah pada umumnya mungkin metode pengajaran disamakan untuk semua murid. Sebagai orang tua kita bisa membantu anak-anak kita agar bisa menerima pelajaran dengan baik. Tapi sebelum itu kita perlu mengetahui karakter dan tipe belajar anak.

Dikutip dari salah satu warta visual detik.com, tipe belajar anak secara garis besar dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu visual, audotiry dan kinestetik. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai tipe-tipe tersebut.

1. Visual, Tipe visual bisa menyerap pelajaran lebih baik dengan melihat. Mereka lebih suka melihat atau membaca terlebih dulu sebelum belajar hal-hal baru. Diperkirakan, sebanyak 80% pelajaran bisa dimengerti melalui penglihatannya. Membaca buku dan melihat gambar adalah cara belajar yang paling disukainya.

Tipe visual juga biasanya memilih duduk di kursi terdepan di sekolahnya, agar dia bisa melihat dengan jelas guru dan papan tulis. Mereka sangat bagus menuliskan ulang apa yang ada di papan tulis, tapi kadang suka terlewat instruksi yang diberikan secara lisan.

Coba perhatikan tingkah laku anak Anda saat mengerjakan pekerjaan rumah. Jika si anak lebih mudah mengerti dengan membaca, tertarik pada gambar, diagram, tabel serta grafik; kemungkinan besar anak Anda punya tipe belajar visual. Maka untuk membantunya belajar di rumah, sediakan papan tulis serta gambar-gambar menarik sebagai komponen pendukung agar dia lebih mudah mengerti dan tertarik belajar.

2. Auditory, Anak dengan tipe belajar auditory, harus mendengarkan pelajaran mereka untuk memahaminya. Mereka lebih suka segala sesuatunya dijelaskan dengan perkataan. Tanyakan pada anak Anda, apakah dia lebih suka menyimak pelajaran dari papan tulis atau saat guru mendiktenya? Jika dia memilih yang kedua, maka si anak adalah tipe auditory.

Tipe pendengar biasanya merekam informasi yang telah diucapkan. Beberapa dari mereka bahkan merasa lebih nyaman belajar jika disertai suara musik pelan. Mereka biasanya mengingat pelajaran dalam bentuk lagu favorit atau puisi. Keuntungan dari tipe ini, mereka tidak mudah bosan belajar, selama materinya disampaikan dengan cara audio.

Bila anak Anda termasuk tipe auditory, Anda bisa membekalinya dengan perangkat audio seperti MP3 player yang dilengkapi fitur audio recording. Sebelumnya, minta bantuan guru di sekolahnya untuk menyampaikan materi secara visual maupun audio dengan intensitas yang sama. Dengan begitu, anak dengan kemampuan belajar visual maupun auditory bisa sama-sama menyerap pelajaran dengan baik. Namun jika si anak tetap sulit menangkap pelajaran –karena sebagian besar sekolah reguler menerapkan metode pengajaran visual– Anda bisa memasukkannya ke sekolah privat atau home schooling.

3. Kinestetik, Anak dengan kemampuan belajar kinestetik tidak bisa hanya duduk tenang dan menunggu informasi disampaikan. Mereka tertarik mencari sendiri hal-hal yang ingin mereka tahu tanpa harus selalu membaca buku panduan. Oleh karena itu, tipe ini cenderung tidak bisa diam dan kerap dianggap anak nakal karena kerap tidak bisa diam dan sulit mendengarkan penjelasan guru di sekolah.

Selain itu, tipe kinestetik sangat suka berjalan-jalan karena mereka melihat lingkungan sekitar dengan cara berbeda. Bagi mereka, bumi adalah sebuah taman bermain raksasa yang penuh dengan berbagai hal menarik yang ingin mereka ketahui dan jelajahi.

Tanyakan pada anak Anda, ketika mendengar kata ‘kucing’, apa yang langsung terlintas dalam pikirannya? Jika ia mengatakan; ‘hewan dengan bulu-bulu halus’, kemungkinan besar si anak adalah tipe kinestetik. Sentuhan dan rasa sangat penting baginya dan dia lebih tertarik pada pelajaran yang bersifat eksperimen dan study tour.

Ajari dia belajar dengan cara mencontohkan apa yang harus dia lakukan. Tipe kinestetik menangkap informasi baru dengan melihat apa yang dilakukan orang lain, lalu mencobanya sendiri. Gunakan balok-balok atau magnet bertuliskan huruf alfabet untuk ajarkan dia mengeja. Si anak akan mengingat huruf-huruf dengan menyentuh dan memindah-mindahkannya. Buat aktivitas belajar dalam beberapa sesi dengan waktu yang pendek, dan tawarkan istirahat sebentar di setiap akhir sesi agar tidak lelah.

Yayasan Sekar Mentari —> Penitipan Anak, Play Group, Taman Kanak-Kanak & Lembaga Bimbingan Belajar

Perumahan Puri Indah Blok R-12, Sidoarjo, Jawa Timur.

No.Tlp 081354584837 & 085331433385

Membimbing Anak Bermedia Sosial

Perkembangan teknologi, media sosial dan smart phone yang kian hari semakin pesat adalah sebuah fenomena yang kita sendiri sebagai orang tua tidak bisa membendungnya (lebih tepatnya melarangnya terhadap anak). Sebaliknya sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk melindungi putra dan putrinya yang aktif bermedia sosial, karena memang beberapa hal di dalam dunia maya atau internet terdapat sisi negatif walaupun memang tidak sedikit pula sisi positif di dalamnya.

Berikut beberapa panduan bagi para orang tua dalam membimbing anaknya bermedia sosial san berinternet :

  • Orang tua harus terlebih dahulu memahami media sosial. Memahami seluk-beluk media sosial dan perbedaan antara satu platform dengan yang lainnya atau satu media sosial dengan yang lainnya, mencobanya dan merasakan langsung bermedia sosial tentu akan memudahkan orang tua dalam mengawasi putra-putrinya yang aktif bermedia sosial. Bagaimana seorang sarjana muda mengajari muridnya sedang si murid ternyata seorang profesor.
  • Memberi dan menjadi contoh yang baik bagi anak.
  • Membatasi usia anak untuk bermedia sosial. Tidak semua hal yang ada di internet maupun media sosial adalah untuk anak-anak (artinya untuk dewasa). Para orang tua perlu mengetahui batas umur suatu media sosial. Misalnya situs-situs yang memang dikhususkan hanya untuk orang dewasa. Juga jangan lupa bahwa orang tua harus cerdas memberi fasilitas internet (komputer atau gadget) kepada anak, tidak semua permintaan anak harus dituruti.
  • Berdiskusi dengan anak tentang dampak internet dan sosial media. Membicarakan dengan langsung kepada anak tentang sisi positif dan negatif internet, tentang konsekuensi bermedia sosial. Diskusi dengan putra-putri adalah hal baik yang bisa dilakukan orang tua kepada anaknya, selain mengajarkan kepada anak keterbukaan pikiran juga menjaga agara hubungan anak dengan orang tua semakin dekat. Diskusi adalah jalan keluar yang baik dalam menyelesaikan masalah.
  • Pantau gadget anak dan privasinya.
  • Beri peraturan dalam penggunaan teknologi kepada anak. Teknologi adalah akses dunia maya atau internet, banyak hal-hal berkonten dewasa yang mana tidak diperbolehkan untuk diakses oleh anak-anak. Menetapkan peraturam contohnya memberi waktu kapan anak boleh bermain komputer atau gadget, menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu, meletakkan komputer di ruang yang terbuka (ruang keluarga, misalnya), meminimalkan akses anak ke sosial media dengan cara menyibukkannya dengan kegiatan-kegiatan yang positif karena sebenarnya dunia yang baik bagi anak adalah dunia bermain bukan dunia maya.