Visi dan Misi Yayasan Sekar Mentari

Visi dan Misi Yayasan Sekar Mentari – Taman Penitipan Anak – Play Group – Taman Kanak-Kanak – Taman Pendidikan Qur’an – Lembaga Bimbingan Belajar – Biro Dakwah – Koperasi Organik

Visi
Menjadi lembaga pendidikan dan dakwah islam yang unggul, modern dan dibutuhkan masyarakat. Rahmatan lil alamin.

Misi
• Menjalankan pendidikan islam.
• Lulusan PG dan TA mempunyai bekal membaca latin dan al Qur’an untuk memasuki jenjang sekolah dasar.
• Pembinaan guru melalui kegiatan pelatihan, dakwah, sosial, entrepreneur. Sebagai pengemban amanah transformasi nilai.

Melatih Anak Berbicara

Komunikasi adalah lambang kecerdasan seorang anak. Semakin pandai anak dalam berkomunikasi maka semakin terlatih daya ingatnya dan semakin banyak kosa-kata yang dimilikinya.

Merupakan sebuah kebanggan bagi orang tua apabila sang buah hati mulai bisa berbicara. “bunda…mama…ayah…papa…”.

Selain itu kepintaran anak dalam berkomunikasi mencerminkan bahwa sang anak telah memiliki rasa percaya diri atau sedang belajar menjadi percaya diri, tinggal bagaimana kita (orang tua & guru) mengarahkan dan membimbing mereka.

Yayasan Sekar Mentari Sidoarjo meliputi penitipan anak, play group dan taman kanak-kanak memiliki beberapa tips melatih sang buah hati berbicara. Sebagai berikut :

1. Selalu dimanapun dan kapanpun ajak si kecil berkomunikasi. Seperti mengenalkan nama-nama benda, nama-nama saudara, dsb. Mulailah dengan kata-kata yang mudah dieja. Tujuannya agar anak terbiasa dan nantinya meniru menyebutkan nama-nama benda tersebut.

2. Mendongeng. Si buah hati akan menjadi lebih senang dan tertarik dengan dongeng. Jangan lupa menggunakan alat peraga seperti boneka, dll, agar kegiatan mendongeng menjadi semakin seru dan tidak membosankan. Di dalam mendongeng kita bisa mengajarkan kosa-kata baru & hikmah/nilai luhur dari suatu cerita.

3. Mendengarkan lagu dan menyanyi. Mungkin anak anda akan lebih bersemangat dengan sebuah lagu/nyanyian. Seperti menyanyi saat sedang menina-bobokan buah hati, menyanyi sambil berjoget (seperti senam atau karaoke), menyanyi lagu kebangsaan, dsb.

Tapi yang perlu diingat adalah kita harus berhati-hati memberikan nyanyian/lagu kepada sang buah hati karena tidak semua nyanyian patut didengar oleh si kecil (seperti lagu dewasa, dsb).

4. Belajar sambil bermain. Ajak si buah hati bertemu hal-hal baru. Seperti berkunjung ke museum, ke kebun binatang, ke taman bermain, Hal itu akan merangsang rasa penasaran si buah hati sehingga ia akan bertanya tentang hal yang baru dilihatnya.

Selain itu kegiatan ini juga melatih si buah hati dalam bersosial, bertemu suasana dan teman baru yang nantinya memupuk rasa percaya dirinya.

5. Jangan pernah mengabaikannya. Setiap anak kecil, yang ada dalam diri mereka adalah tumpukan rasa penasaran yang keluar dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Jawablah dengan sungguh-sungguh setiap pertanyaan mereka. Walaupun sepele, jangan pernah berbohong kepada mereka. Jika benar katakanlah sebenarnya dan begitu pula sebaliknya.

Hal ini juga melatih si buah hati sifat terbuka, keterbukaan berpikir dan tidak malu dalam menyampaikan pendapat.

Demikian sedikit beberapa tips melatih buah hati berbicara. Semoga buah hati kita tumbuh menjadi insan yang cerdas dan bermanfaat bagi sekitarnya. Amien.

Tentang Ramadhan Camp

Apakah aku bisa menjalani 1 mingguku kedepan dengan anak anak yang belum aku kenal, ramadhan camp kali ini ada perbedaan dengan tahun yang lalu. Pesertannya bukan anak-anak lagi melainkan para remaja yang mulai bertingkah. Aku takut mereka akan membuat masalah di desa Sumber Brantas nantinya, tapi aku harus optimis bahwa aku akan bisa mengajak mereka untuk selalu bergembira.

Anganku ditengah perialanan menuju Desa Sumber Brantas kecamatan Batu, malang. Belum sampai aku melanjutkan lamunanku bis yang kami tumpangi tiba di lokasi ramadhan camp tempatnya di TPQ dan TPA al-Hidayah kami disambut dengan dua rekan yang telah datang duluan.

Pertama kali datang kupandangi sekeliling tempat ramadhan camp, “subhanallah” sungguh indah ke keagungan Mu tak henti-hentinya aku melampiaskan ketajubanku.

Hari pertama kami lalui dengan sempurna, mulai dari perkenalan, pembentukkan kelompok, sampai canda tawa sudah mulai keluar dari setiap senggang waktu kami, tetapi hati kami merasa sedih ketika kulihat peserta wanita berkumpul, mereka menangis ingin pulang, kangen dengan mama karena tempatnya yang dingin dan tidak ada fasilitas kasur seperti di rumah. Sebagai instruktur aku coba menenangkan mereka apakah kondisi seperti ini bisa dilanjutkan???

Hari akan ku jalani pagi ini aku harus ceria dan bisa mengobati kesedihan mereka. Acara pertama diawali dengan bersosialisasi dengan masyarakat. Para pesera harus menggali informasi sebanyak banyaknya tentang Ds. Sumber Brantas dari masyarakat setempat. Banyak kelucuan yang terjadi bahkan masyarakat tidak menyangka kalau mereka adalah anak anak yang masih berstatus pelajar SMP atau SMA. Semakin sore acara semakin menarik, gelak tawa terdengar dengan sempurna. Di hari ke 2 semua menggunakan kostum hitam karena karena acara semakin menarik karena Out BOND ke kepemandiam air panas Cangar. Di tempat itu banyak kagiatan yang berlangsung mulai dari permainan hingga materi demi materi yang mengesankan seperti kesehatan reproduksi dan kepemimpinan. Pada hari ini yang paling mengesankan adalah 2 peserta yang berani mempersilakan pindah 2 muda mudi yang sedang pacaran di depan kami.

Hari ke 3 dan hari-hari selanjutnya semakin membuat erat tali silaturrahmi antar sesama peserta, dan peserta dengan tutor semua kegiatan dapat terlaksana dengan sempurna seperti karnaval, outbond, sholat terawih, sosialisasi dengan masyarakat, panen wortel dengan masyarakat, dapat tersampaikan diantaranya : Tafsir, aqidah, kristologi, problematika remaja, kesehatan, dan materi reproduksi.

Di hari terakhir ini aku merasakan aneh dengan hatiku rasanya aku enggan pulang aku berdoa semoga Allah memperlambat waktu hari ini biar aku bergembira dengan para peserta. Hari ini tidak ada materi yang berat hanya membuat hiasan ruang TPQ Al Hidayah. Aku sangat terkejut kalau dari ruang ini instruktur para peserta terlihat diam tindakan peserta tidak biasa semua terdiam dan membersikan semua ruangan.

“Kok diam,” Tanyaku.
“Mbak Rifat, apa pulang nya ngak bisa di tunda 1 hari satu hari saja,” minta peserta.
“ya gak bisa, pertemuan pasti ada perpisahan.”

Para teman-teman instruktur berkumpul di depan para peserta, mereka mencoba menenangkan para peserta yang ingin menambah hari untuk Ramadhan camp di Desa Sumber Brantas, mereka mengungkapkan semua alasan kenapa mereka tetap ingin bertahan. Terharu aku mendengar percakapan antara peserta yang diantaranya Yudhis Pramana, Bagas, Gradian, Ryani, Prita, Susi, Rina, Aryo, Vita, Yudha, Sandi, dll dan para instruktur Wiwit, Laili, mas Nafi dan aku sendiri yang hanya duduk melihat mereka semua. Akhirnya dengan membawa kesenangan karena akan bertemu dengan orang tua.

“Ya Allah…terima kasih aku panjatkan kepada Mu semua kegiatan telah selsesai…

Catatan harian Rifat Darajat (Instruktur) Ramadhan camp. 2006/Ramadhan 1417 H.

Secara Garis Besar Yayasan Sekar Mentari

Secara garis besar Yayasan Sekar Mentari terdiri dari dua lembaga. Lembaga profit dan lembaga nonprofit.

Lembaga profit adalah lembaga yang menguntungkan yayasan dari segi komersil sedangkan lembaga nonprofit tidak. Secara gampang lembaga profit adalah ‘menerima’ dan nonprofit adalah ‘memberi’ dalam segi komersil.

Lembaga profit terdiri dari penitipan anak, play group, taman kanak-kanak, Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ), lembaga bimbingan belajar (LBB), privat dan koperasi organik. Lembaga nonprofit terdiri dari bakti sosial, biro dakwah dan pembinaan para narapidana di lembaga permasyarakatan sidoarjo dan porong.

Gambaran yayasan secara garis besar.

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun

Selamat Membaca.

Nabi Musa lahir dan diutus untuk berdakwah di Mesir ditemani oleh saudaranya yang bernama Nabi Harun. Setelah melalui berbagai rintangan dan cobaan, akhirnya Nabi Musa dan Nabi Harun berhasil membebaskan dan membawa kaum lsrail keluar dari Mesir.

Musa sempat melarikan diri ke Madyan dan menikah di sana, namun kembali lagi untuk berdakwah di Mesir. Musa diangkat menjadi nabi dan menerima wahyu di Bukit Thursinai dan wafat di Gunung Nibu, wilayah Syam.

Kala itu, Mesir diperintah seorang raja yang sangat zalim dan kejam. Raja Mesir tersebut bernama Firaun. la sendiri mengaku sebagai tuhan yang harus disembah oleh seluruh rakyatnya. Jika ada yang membangkang, ia tidak segan-segan memberikan hukuman kepadanya. Rakyat benar-benar merasa hidup menderita di bawah kepemimpinannya.

Suatu malam, Firaun bermimpi seolah-olah melihat negeri Mesir yang dipimpinnya terbakar habis. Seluruh rakyatnya mati, kecuali seorang dari bani Israil. Firaun menjadi gelisah sejak datangnya mimpi tersebut. la mengumpulkan seluruh ahli ramal untuk mengartikan mimpinya.

Setelah terkumpul, salah seorang dari mereka berusaha mengartikan mimpi tersebut. la berkata bahwa suatu saat akan datang seorang laki-laki dari keturunan bani Israil yang akan meruntuhkan kekuasaannya. Mendengar hal itu, Firaun menjadi gelisah dan ketakutan.

Sejak saat itu, ia memerintahkan kepada bawahannya agar membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari keturunan bani Israil. Setiap ibu yang hamil dari keturunan bani Israil dilanda kegelisahan. Mereka khawatir jika bayi mereka nanti adalah laki-laki karena akan dibunuh.

Allah berfirman, “Sungguh, Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, membunuh anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Di tengah kondisi yang mencekam tersebut, lahirlah seorang bayi laki-laki keturunan Israil. Bayi ini dilindungi oleh Allah. Allah berkata kepadaYukabad, ibu bayi tersebut, “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai. Janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya rasul.”

Akhirnya, bayi tersebut dihanyutkan ke Sungai Nil.

Siti Asiah, Istri Firaun, menemukan sebuah peti di Sungai Nil. la membuka peti tersebut. Alangkah terkejutnya ketika ia mengetahui bahwa isi peti tersebut adalah seorang bayi laki-laki. la lalu membawanya dan memperlihatkannya kepada Firaun. Firaun sangat marah ketika mengetahui istrinya membawa bayi laki-laki. la berkata kepada istrinya,

“Berikan bayi itu Aku akan membunuhnya karena dia kelak akan menghancurkanku.”

lstri Firaun berkata, “Baginda, ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan, ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.” Asiah terus saja bersikeras dengan pendapatnya.

Sejak saat itu, Musa tinggal bersama Firaun dan istrinya. Asiah mencarikan ibu yang dapat menyusui bayi temuannya. Sementara itu, di tempat tinggalnya, ibu Musa yang bernama Yukabad gelisah. la khawatir kalau bayinya ditemukan Firaun dan dibunuh. la menyuruh saudara perempuan Musa yang bernama Maryam untuk mencari informasi tentang Musa. Akhirnya, Maryam mendapatkan informasi bahwa Musa dalam asuhan istri Firaun. Sekarang, istri Firaun sedang mencari ibu yang dapat menyusuinya. Dengan cepat, Yukabad mengajukan diri menjadi ibu susu bagi Musa.

Suatu ketika, Firaun sedang menggendong dan bercanda dengan bayi Musa. Tiba-tiba, bayi Musa menarik jenggot Firaun hingga beberapa helai rambutnya rontok. Firaun sangat marah. la merasakan bahwa bayi tersebut kelak memiliki kekuatan yang akan menghancurkannya. Firaun hampir saja membunuhnya. Akan tetapi, istrinya mencegahnya. Istrinya berkata, “Baginda jangan marah kepadanya. Maafkanlah ia. la masih kecil.”

Akhirnya, Firaun menuruti kata-kata istrinya. Firaun memang dikenal sebagai raja yang sangat kejam. Akan tetapi, Firaun sangat menyayangi dan mencintai istrinya. la selalu menuruti keinginan istrinya tersebut.

Musa beranjak dewasa. la diberikan petunjuk oleh Allah bahwa dirinya bukanlah anak kandung Firaun. Sejak kecil, sebenarnya, Musa sudah merasakan bahwa Firaun bukanlah ayah kandungnya. la sering merasa kesal dengan perilaku Firaun yang sewenang-wenang terhadap rakyat.

Suatu hari, Musa berjalan-jalan menikmati pemandangan sekitar istana. Tiba-tiba di tengah jalan, ia melihat dua orang sedang bertengkar. Yang satu adalah seorang Qibti dan merupakan pejabat istana. Yang satunya adalah orang Israil dan merupakan seorang budak. Nabi Musa berusaha melerai pertengkaran tersebut. Akan tetapi, orang Qibti tersebut marah dan menyerang.

Musa tidak punya pilihan lain kecuali melayani serangannya. Musa membalas pukulan dan serangan orang Qibti tersebut. Di luar dugaan, pukulannya membuat orang Qibti itu mati.

Musa sangat menyesal dengan perbuatannya. la tidak bermaksud membunuh orang Qibti tersebut. Musa merasa ketakutan. Kemudian, ia berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri. Oleh karena itu, ampunilah aku.”

Allah mengampuninya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata, “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.”

Pada hari yang lain, Musa menemui kejadian yang sama. la melihat orang Qibti dan Israil bertengkar. Ketika Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata, “Hai Musa, apakah kamu bermaksud untuk membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seseorang? Kamu hanya ingin menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri ini. Tidaklah karnu berusaha untuk mendamaikan dari sebuah perselisihan.”

Teriakan orang Qibti itu terdengar oleh salah seorang pejabat Firaun. Orang tersebut mengadukan peristiwa tersebut kepada Firaun.

Pembelaan Musa terhadap orang Israil menimbulkan kemarahan besar Firaun. la memerintahkan pasukannya untuk mencari Musa. Musa mengetahui bahwa dirinya akan ditangkap dan dihadapkan kepada Firaun.

Sementara itu, Musa mendapatkan petunjuk dari Allah agar segera meninggalkan Mesir. Seorang laki-laki dari ujung kota dengan terburu-buru mendatangi Musa. Laki-laki itu berkata, “Hai Musa, sesungguhnya, pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu.

Oleh sebab itu, keluarlah dari kota ini. Sesungguhnya, aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu”. Orang itu kemudian menyarankan kepada Musa agar segera meninggalkan Mesir.

Musa menerima saran orang tersebut. la segera pergi. Dalam perjalanannya, ia terus berdoa kepada Allah. la memohon keselamatan dirinya dari pengejaran pasukan Firaun.

Musa melakukan perjalanan selama delapan hari delapan malam. Akhirnya, ia sampai di Madyan. la merasa kelelahan. Oleh karena itu, ia berteduh di bawah sebuah pohon, dekat sebuah sumber air. Di sana, ia menyaksikan para penggembala mengantre mengambil air untuk kambing-kambing mereka. Musa terkejut ketika melihat dua penggembala wanita diantara para penggembala lain yang semuanya laki-laki.

Musa lalu menawarkan diri untuk menolong kedua penggembala wanita tersebut. Kemudian, Musa mengambilkan air hingga domba-domba kedua wanita tersebut mendapatkan jatah minum.

Kedua orang wanita itu berterima kasih kepada Musa. Lalu, mereka pamit untuk pulang. Sampai di rumah, kedua penggembala wanita tadi menceritakan peristiwa yang baru mereka alami kepada ayah mereka, Syu’aib. Nabi Syu’aib merasa tertarik dengan cerita kedua putrinya tersebut. la ingin mengenal lebih jauh tentang pemuda yang menolong kedua anaknya. la memerintahkan anaknya untuk membawa Musa ke rumahnya.

Ketika bertemu Musa, mereka berkata, “Sesungguhnya, ayah kami mengundang engkau sebagai tanda terima kasih atas apa yang telah engkau lakukan kemarin.”

Musa menerima undangan tersebut. la mendatangi Nabi Syu’aib. Musa menceritakan kepadanya tentang pengejaran pasukan Firaun.

Syu’aib berkata, “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”. Kemudian, Nabi Syu’aib menawarkan kepada Musa untuk tinggal di rumahnya. Musa sangat senang. la menerima tawaran tersebut.

Sejak saat itu, Musa tinggal bersama keluarga Nabi Syu’aib. Setiap hari, ia membantu kedua putri Nabi Syu’aib untuk menggembalakan kambing. Musa memang sosok yang cekatan dan ulet dalam bekerja. Hal ini membuat Nabi Syu’aib tertarik dengan kepribadiannya. Nabi Syu’aib bermaksud menikahkannya dengan putrinya.

Nabi Syu’aib kemudian memanggil Musa. Lalu, ia berkata kepadanya, “Musa, sesungguhnya, aku berrnaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini. Apa engkau mau?”

“Menikahi putri Anda?”

“Ya, tapi ada syaratnya,” kata Nabi Syu’aib.

“Apa syaratnya?” tanya Musa.

“Kamu bekerja denganku selama delapan tahun. Akan lebih balk jika kamu genapkan menjadi sepuluh tahun.”

“Jika itu syaratnya, lnsya Allah saya menyanggupinya.”

Kemudian, Musa menikah dengan putri Nabi Syu’aib yang bernama Shufairah. Keduanya hidup bahagia. Musa terus membantu mertuanya yang semakin tua renta. la menggembalakan kambing, bercocok tanam, berdagang, dan melakukan pekerjaan lainnya.

Musa diangkat menjadi Nabi

Sudah sepuluh tahun, Musa membantu keluarga Nabi Syu’aib. Kemudian, Musa meminta pamit kepada mertuanya. la akan kembali ke Mesir sambil membawa istrinya karena Allah memberikan petunjuk agar ia berdakwah di Mesir.

Nabi Syu’aib pun mengizinkannya. la juga mendoakan keselamatan Musa dan putrinya. Pagi hari yang cerah, Musa dan istrinya berangkat ke Mesir, Mereka sering beristirahat karena kondisi istri Musa yang sedang hamil tua dan merasa kelelahan. Ketika malam datang, Shufairah (Shafura) merasa kedinginan karena hawa gurun yang sangat dingin. Musa bermaksud mencarikan api untuk menghangatkan badan istrinya. Ketika itu, Musa melihat api dari kejauhan. la menyangka api tersebut berasal dari musafir yang melakukan perjalanan. la berkata kepada istrinya, “Istriku aku melihat api di kejauhan. Aku akan ke sana. Tunggulah, mudah-mudahan aku dapat membawa api itu ke sini agar kamu dapat menghangatkan badan.”

Kemudian, Musa bergegas menuju ke tempat api tersebut. la sangat terkejut ketika mengetahui bahwa api tersebut melekat pada pohon kurma dan bukan api yang dibawa musafir. Musa merasakan firasat aneh. Tubuhnya tiba-tiba gemetar. Lalu, telinganya mendengar sebuah suara dari pinggir lembah sebelah kanan pohon kurma tersebut, “Hai Musa, sesungguhnya aku adalah Allah. Tuhan semesta alam.”

Musa masih gemetar. la menerima wahyu dari Allah. Terjadilah dialog antara Allah dan Musa di tempat itu. Tempat itu dikenal dengan nama Bukit Thursinai. Tidak lama kemudian, Allah berkata, “Hai Musa, lemparkanlah tongkat yang berada di sebelah kananmu itu!”

Musa kemudian melemparkan tongkat tersebut. Tiba-tiba saja, tongkat tersebut berubah menjadi ular. Ketika Musa melihatnya, ia sangat kaget dan mencoba untuk lari ke belakang tanpa menoleh.

Allah berkata kepadanya, “Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya, kamu termasuk orang-orang yang aman. Tongkat itu akan menolongmu dalam berdakwah. Selain itu, ia akan menjadi mukjizatmu yang akan membuktikan kenabianmu. Sekarang, masukkanlah tanganmu ke saku bajumu maka tanganmu akan bercahaya!”

Musa pun berhenti dari larinya dan kembali ke tempat ketika Allah memanggilnya. Meski masih kaget, Musa memberanikan diri untuk mendekat dan melakukan perintah dari Allah tersebut. Keajaiban kembali ia saksikan. Tangan yang ia masukkan ke dalam saku bajunya bercahaya ketika ia keluarkan.

Itulah dua mukjizat yang diberikan Allah kepada Musa. Lalu, Allah menguatkan hati Musa dan mengangkatnya sebagai nabi yang diutus Allah untuk berdakwah di Mesir.

Musa sangat bersyukur kepada Allah. Tidak lama kemudian, Musa kembali menemui istrinya dan melanjutkan perjalanan menuju Mesir.

Musa dan istrinya menempuh perjalanan yang lama. Akhirnya, mereka tiba di Mesir. Musa lalu menemui saudaranya yang bernama Harun. Dari Harun, Nabi Musa mengetahui kondisi rakyat Mesir yang semakin menderita di bawah kekuasaan Firaun. Firaun semakin zalim dan kejam terhadap rakyatnya. Firaun memaksa rakyat mengakuinya sebagai Tuhan dan harus menyembahnya. Firaun tidak segan-segan pula menghukum rakyat yang berani menentang atau membangkangnya.

Mendengar penuturan Harun tersebut, Musa sangat sedih. la merasa prihatin terhadap kondisi rakyat Mesir. la bertekad untuk melawan Firaun. Musa lalu berdoa pada Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya, aku telah mambunuh seorang manusia dari golongan mereka. Aku takut mereka akan membunuhku. Saudaraku Harun lebih fasih lidahnya daripada aku. Utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkanku karena sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.”

Lalu, Allah menjawab doa Nabi Musa, “Kami akan membantumu dengan saudaramu (Harun) dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar maka mereka tidak dapat mencapaimu. Dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang.”

Nabi Musa dan Harun kemudian mendatangi Firaun. Keduanya bertemu dengan Firaun yang ketika itu tidak mengenali Nabi Musa setelah sepuluh tahun berpisah. Firaun lalu berkata kepadanya, “Siapakah kalian? Apa maksud kedatangan kalian ke sini?”

“Kami adalah Musa dan Harun, utusan Allah,” jawab keduanya.

“Musa?” Firaun langsung teringat dengan seorang anak yang pernah diasuhnya beberapa tahun yang lalu.

“Ya, aku Musa yang pernah engkau asuh dahulu. Lalu, engkau menyuruh pengawalmu untuk membunuhku,” jawab Musa.

“Bukankah kami telah mengasuhmu waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun? Akan tetapi, kamu telah berbuat suatu perbuatan yang tercela. Sesungguhnya, kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas budi,” kata Firaun dengan nada yang ditekan.

“Aku memang telah melakukannya karena aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf,” kata Musa.

“Kamu benar-benar tidak tahu balas budi. Sekarang, kamu datang mengaku sebagai utusan Tuhan Semesta Alam. Tuhan yang mana?” tanya Firaun

Musa menjavvab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya jika kamu sekalian memercayai-Nya.”

Firaun menjadi marah dan berkata, “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, aku akan menangkap dan memenjarakanmu.”

Musa berkata, “Apakah engkau akan memenjarakan aku juga jika aku mampu menunjukkan kepadamu bukti-bukti yang nyata?”

Firaun berkata, “Perlihatkanlah kepadaku bukti-bukti itu jika apa yang kamu katakan itu adalah benar.”

Musa melemparkan tongkatnya. Lalu tiba-tiba, tongkat itu berubah menjadi ular yang terlihat sangat nyata. Musa menarik tangannya. Tiba-tiba, tangan itu menjadi putih bercahaya.

Firaun sebenarnya merasa takjub. Akan tetapi, ia tetap mempertahankan kesombongannya. Lalu, ia berkata kepada pembesar-pembesar yang berada di sekelilingnya dengan nada mengejek,

“Sesungguhnya, Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai.”

Setelah itu, ia mendatangkan tukang sihir andalannya dan menantang Musa untuk menandinginya. Musa pun menyanggupinya.

Firaun memberikan perintah kepada bawahannya agar mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk berkumpul di alun-alun. Rakyatnya akan menyaksikan pertandingan antara Musa dan tukang sihirnya.

Pada hari yang telah ditentukan, Musa pun berhadapan dengan tukang sihir Firaun. Sebelum bertanding, Musa berdoa kepada Allah dan kemudian bersiap-siap. Para tukang sihir itu pun menunjukkan kesaktiannya. Mereka melemparkan tali-tali ke lapangan. Seketika itu juga, tali-tali tersebut berubah menjadi ular.

Kemudian, Musa mengeluarkan tongkatnya. Tongkat tersebut berubah menjadi ular besar dan melahap seluruh ular kecil milik tukang sihir Firaun. Para tukang sihir tersebut merasa takjub pada kesaktian Musa. Mereka lalu mengaku kalah dan beriman kepada kenabian Musa.

Melihat peristiwa itu, Firaun menjadi sangat marah. la berkata kepada para tukang sihirnya, “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya, dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui. Aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya”.

Mereka berkata, “Tidak ada kemudharatan bagi kami. Sesungguhnya, kami akan kembali kepada Tuhan kami. Kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman.”

Firaun menjadi semakin marah. la lalu memberikan hukuman kepada para tukang sihirnya yang telah beriman clan mengikuti ajaran Nabi Musa. Sejak peristiwa itu, pengikut Nabi Musa dan Nabi Harun semakin banyak.

Firaun tenggelam di Laut Mati

Nabi Musa, Nabi Harun, dan pengikutnya bersiap untuk mengadakan perlawanan terhadap Firaun. Akan tetapi, rencana tersebut telah diketahui oleh Firaun dari mata-matanya. Kemudian, Firaun segera menyiapkan pasukan yang lebih besar.

Sebelum mengadakan serangan. Musa mendapatkan petunjuk dari Allah agar ia dan pengikutnya segera menyingkir ke Palestina. Mereka pun akhirnya meninggalkan Mesir.

Firaun yang mengetahui Musa dan pengikutnya meninggalkan Mesir menjadi sangat marah. la kemudian memimpin pasukan untuk mengejar Musa dan pengikutnya. Akhirnya, ia berhasil menemukan Musa dan pengikutnya di tepi Laut Merah. Pengikut Musa mulai panik ketika melihat pasukan Firaun semakin dekat. Sementara itu, mereka harus menunggu kapal untuk menyeberang.

Allah memerintahkan Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke laut Merah. Tiba-tiba, laut itu terbelah menjadi dua. Lalu, Musa dan pengikutnya segera menyeberang dan selamat sampai daratan.

Firaun dan pasukannya bermaksud menyusul para pengikut Musa. Ketika pasukan Firaun sampai di tengah jalan, Allah memerintahkan Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya. Jalan tersebut akhirnya menjadi laut kembali. Akibatnya, Firaun dan pasukannya tenggelam. Sementara itu. Musa dan para pengikutnya selamat.

Binasanya Firaun dan pasukannya tentu saja membuat kaum bani Israil senang. Mereka akhirnya bisa menjalani kehidupan dengan bebas tanpa tekanan dan penderitaan. Nabi Musa kemudian memimpin mereka untuk beribadah kepada Allah.

Pada suatu hari, Nabi Musa hendak pergi ke Bukit Sinai untuk menerima wahyu dari Allah. la kemudian meminta Harun untuk menggantikannya dalam memimpin bani Israil. Nabi Musa kemudian pergi ke Bukit Sinai hingga empat puluh hari.

Setelah ditinggalkan Nabi Musa, seorang laki-laki yang bernama Samiri merasa iri kepada Musa. la iri karena Musa yang mampu membawa orang-orang untuk mengikutinya. Maka suatu hari ia merampas seluruh perhiasan dari kaum bani lsrail dengan tipu dayanya. Lalu dengan keahliannya, ia melebur semua perhiasan emas tersebut dan kemudian membentuknya menjadi patung seekor anak sapi dari emas. Jika angin bertiup dan masuk ke dalam mulut sapi itu, maka keluarlah suara yang mirip dengan suara sapi. Hal ini telah membuat kagum bani lsrail mereka. Samiri kemudian menghasut mereka untuk menjadikan patung sapi tersebut sebagai tuhan Bani lsrail terpengaruh dan mereka pun kemudian menyembah patung sapi itu. Mereka telah lupa kepada Musa dan Tuhannya yang telah menyelamatkan mereka dari kezaliman Firaun

Nabi Harun mencoba memperingatkan mereka, bahwa mereka telah melakukan kesesatan yang dosanya sangat besar. Harun terus berusaha untuk menyadarkan mereka agar tidak menyembah patung sapi itu. Namun usaha yang dilakukan Harun sia-sia. Kaum bani lsrail tetap keras kepala dengan menyembah patung sapi buatan Samiri.

Setelah Nabi Musa selesai berdoa kepada Allah, ia kemudian kembali kepada kaumnya. Namun ia kaget ketika menemukan kaumnya telah kembali kepada kesesatan dengan menyembah patung sapi. Nabi Musa kemudian mendatangi Harun untuk mendapat penjelasan.

Nabi Harun menjelaskan apa yang telah terjadi dengan kaumnya. Lalu Nabi Musa mendatangi kaumnya dan berkata, “Hai kaumku! Bukankah Tuhanmu menjanjikan kepadamu suatu janji yang balk? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu, atau kamu menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku?”

Lalu mereka menjawab, “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami harus membawa beban-beban dari perhiasan kaum Firaun, maka kami melemparkannya dan demikian pula Samiri melakukannya. Kemudian Samiri mengeluarkan dari perhiasan itu anak lembu yang bertubuh dan bersuara.”

Kemudian Nabi Musa menyuruh mereka bertobat kepada Allah. Nabi Musa pun kemudian, memohonkan ampunan atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Allah kemudian menerima tobat mereka karena Allah Maha Pengampun atas segala dosa.

Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia, (Q.S. Ad-Dukhaan : 17)

Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata. (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 38)

dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). (Q.S. Al-‘Ankabuut : 39)

Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. (Q.S. Al-A’raaf : 103)

Kemudian Kami telah memberikan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. (Q.S. Al-An’aam : 154)

Sekilas Tentang Meirina, Perempuan Inspiratif Yang Mengabdikan Dirinya Untuk Anak-Anak dan Narapidana

Menemukan sosok muda yang inspiratif di bidang pendidikan dan kemanusiaan di jaman sekarang ini jelas tidak mudah. Kaum muda dewasa ini umumnya identik dengan budaya hura-hura, egoisme, santai dan masih banyak lagi julukan buruk lainnya yang disandang.

Kalau kemudian ada segelintir orang yang telah berbuat kebaikan sering dipandang sebagai hal aneh dan tentu saja banyak mendapat sorotan karena mengundang rasa penasaran masyarakat luas. Apalagi dengan maraknya teknologi internet belakangan ini, perbuatan baik atau buruknya seseorang bisa diblow up lewat sosial media sedemikian rupa sehingga tidak kelihatan mana yang benar-benar tulus ihlas atau hanya sekedar berpura-pura alias setingan belaka.

Dalam kehidupan nyata kadang perbuatan seseorang tidak asli adanya. Hal yang mungkin sudah menggejala ialah bahwa berbuat baik itu kini sudah tidak dilandasi perasaan tulus ihlas, kadang hanya termotivasi untuk meninggikan citra terhadap diri orang itu. Tapi kita tak perlu pesimis, tentu saja masih ada permata-permata muda yang bisa kita temukan di muka bumi ini. Sosok muda yang sebenar-benarnya menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Salah satunya adalah Meirina Wanti.

Pengamatan terhadap kiprah sosok muda yang satu ini bukan dalam hitungan satu atau dua tahun tapi semenjak ia masih duduk di bangku kelas tiga SMP hingga di usianya yang pada 22 Mei 2016 mendatang menginjak 24 tahun. Untuk mengetahui lebih jauh tentang siapa sebenarnya Meirina Wanti mari kita lihat kesehariannya.

Pendidik Sekolah Taman Kanak-kanak

Setiap hari sekitar pukul 06.00 pagi Meirina Wanti sudah harus bersiap di sekolah Taman Kanak-kanak (TK) yang ada di Kota Sidoarjo tempat di mana ia mengajar. Kadang ia masih harus menyelesaikan tugas mengajarnya hingga pukul delapan sampai sepuluh malam. Sekolah TK yang didirikan oleh Yayasan Sekar Mentari itu tidak hanya menerima siswa TK tapi juga play group dan juga menerima penitipan bayi.

Yayasan Sekar Mentari sendiri sebenarnya sudah berdiri sejak 23 tahun silam. Sekar Mentari merupakan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Lembaga itu memiliki dua program yaitu program pendidikan play group, Taman Kanak-kanak (TK), Lembaga Bimbingan Belajar (LBB), Taman Pembinaan Al-Qur’an (TPQ). Sementara program sosial melakukan pengajaran di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang ada di Kabupaten Sidoarjo.

Program belajar untuk anak-anak TK dimulai pukul 07.30 pagi, sebelum masuk ruang kelas para guru yayasan membiasakan para muridnya untuk melakukan ritual pagi yakni dengan berdoa. Pada Hari Jum’at dan Sabtu proses belajar mengajar berjalan lebih santai, siswa diajak berjalan-jalan keliling sekitar sekolahan mereka. Kebiasaan menabung dan berinfaq juga ditanamkan untuk para murid TK yayasan Sekar Mentari.

Setiap anak didiknya selesai memasukkan infaq ke kotak amal, Meirina senantiasa mendo’akan murid-muridnya dengan kalimat “hari ini kamu telah berinfaq semoga Allah memberikan pahala atas amalanmu itu”. Begitu pula pada saat menabung, Meirina selalu mendo’akan setiap anak didiknya agar menjadi manusia yang pandai berhemat, hidupnya tidak boros. Uang yang berhasil ditabung oleh sang murid hendaknya dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja termasuk untuk biaya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Mendidik anak-anak play group dan TK butuh ketelatenan dan kesabaran, mereka adalah tunas-tunas bangsa” ungkap Meirina saat saya temui di kantornya pada Jum’at(8/1/2016) pagi itu.

Menghadapi siswa play group dan TK ternyata bukan pekerjaan mudah. Gara-gara pola-tingkah siswanya yang sulit diarahkan kadang ia menjadi emosi. Itu diakuinya saat awal-awal bergabung dengan Yayasan Sekar Mentari. Meirina kini memiliki 28 orang siswa, dua orang diantaranya merupakan anak berkebutuhan khusus.

“Jam terbanglah (pengalaman, red) yang menjadikan saya sanggup mendidik anak-anak itu” tuturnya sambil menunjuk ke arah siswa-siswa TK yang sedang bermain.

Meirina bukan sekedar pengajar sekolah play group atau TK, berkat ketekunannya ia kini diangkat oleh yayasan yang dipimpin oleh Bu Rosida Ekowati itu sebagai direktur pelaksana.

Sebagai pengajar berpengalaman ia tak lantas mengumbar amarah ketika melihat rekan guru bawahannya yang telah berbuat kekeliruan dalam memperlakukan murid-muridnya. Ia tetap santun menegur dan mengarahkan rekan guru yang menjadi bawahannya itu.

“Dibutuhkan kepekaan dalam mendidik siswa-siswi yang masih usia kanak-kanak itu” ungkapnya.

Saat melihat murid-muridnya mengalami kesulitan atau bahkan berbuat nakal, Meirina dan rekan-rekan guru lainnya dituntut untuk tanggap dan segera membantu memecahkan masalahnya.

“Usia kanak-kanak identik dengan bermain dan bernyanyi. Pola pendidikannya tentu diarahkan sesuai cara berpikir anak-anak. Meski demikian anak-anak tetap dilatih berani bertanya atau mengungkapkan pendapatnya” lanjut Meirina.

Kadang Meirina dan rekannya merasa kewalahan dengan kekritisan anak-anak didiknya. Itu terlihat saat sekolahan mengadakan program studi tur. Para murid bukan cuma senang bermain, tapi di sela-sela bermain itu mereka kritis bertanya kepada gurunya tentang apa saja saat program studi tur berlangsung.

“Menjadi pendidik anak-anak (play group/TK/TPQ, red) harus bisa memposisikan diri kita layaknya orang tua kandung mereka” tegas Meirina.

Saat siswa datang ke sekolah, para guru menyambutnya dengan salam, kata-kata yang santun dan ramah juga peluk cium. Kadang bila orang tua repot atau sakit sehingga tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah maka sang gurulah yang dengan ihlas menjemput siswa tadi ke rumahnya agar tetap bisa mengikuti proses belajar dengan baik.

Para guru yang mengajar di play group atau TK milik yayasan Sekar Mentari itu sekaligus ditugaskan untuk membina siswa yang terdiri dari para narapidana (napi) Lapas kelas I Porong dan Lapas kelas II A Sidoarjo.

Perjalanan kariernya sebagai pengajar diawali ketika ia bersama ibundanya rajin mengikuti acara pengajian di daerahnya. Di sanalah untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Rosida Ekowati yang tak lain adalah pemilik Yayasan Sekar Mentari. Melihat potensi Meirina yang luar biasa akhirnya Rosidapun merekrutnya sebagai pengajar di yayasannya.

Perempuan kelahiran 24 tahun silam itu menekuni karier sebagai guru TK di yayasan yang terletak di Kompleks Perumahan Puri Indah Sidoarjo itu sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga SMP. Meirina tidak bekerja sendirian, bersama empat orang guru lainnya mereka bahu-membahu memajukan yayasan Sekar Mentari.

Mei demikian sapaan akrab Meirina Wanti mengisahkan bahwa dirinya merupakan anak dari kalangan biasa. Kesehariannya diwarnai kesederhanaan, kedua orang tua Mei benar-benar menanamkan pendidikan Agama Islam bagi setiap putra-putrinya. Sang ayah telah lama tiada, bersama sang ibu tercinta dan adik kandungnya, Mei kini tinggal di kawasan Sepande, Sidoarjo-Jawa Timur. Sementara kedua kakaknya sudah berumah tangga sendiri.

Meniti karier sebagai pendidik sekolah taman kanak-kanak memang tidak mudah, tak seenak yang dibayangkan orang. Beberapa tahun pertama mengajar ia mendapatkan gaji yang sangat minim tapi untuk remaja seusianya gaji yang tak layak itu sangat disyukurinya.

Keahlian mendidik anak-anak TK ia peroleh secara otodidak murni, hanya lewat pelatihan-pelatihan dan pengalaman berorganisasi. Meirina Wanti mengaku tidak secara khusus belajar di sekolah pendidikan guru taman kanak-kanak (PG TK). Ia kini masih tercatat sebagai mahasiswa semester 11 Jurusan Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya.

“Saat ini saya masih aktif sebagai pengurus pusat organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII)” tukasnya.

Pengalaman berorganisasi menjadikan Mei berpikir matang dan itulah yang antara lain menjadi modal baginya untuk sanggup mengajar di Yayasan Sekar Mentari.

Mengajar Para Narapidana

Meirina Wanti merupakan salah satu tenaga pendidik Yayasan Sekar Mentari yang juga bertugas mengajar Agama Islam (kajian Al-Qur’an) kaum narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas I Porong, Sidoarjo dan Lapas kelas II A yang ada di pusat Kota Sidoarjo, tepatnya persis di depan alun-alun kota.

Lapas kelas I Porong selama ini dikenal sebagai Lapas yang dihuni oleh para tahanan kelas kakap. Para pembunuh dan teroris khabarnya juga menghuni Lapas itu. Daya tampung Lapas kelas I bisa mencapai 1000 narapidana. Sementara Lapas kelas II A punya daya tampung sebanyak 400 – 500 orang.

Mendidik para narapidana apalagi bagi seorang pengajar (guru) wanita tentu terasa menakutkan. Tapi tidak bagi Meirina, ia bahkan sudah melakoninya selama lebih kurang sembilan tahun.

Kamis pagi (14/01/2016) saya mencoba melihat langsung bagaimana Meirina mengajarkan Agama Islam, khususnya kajian tentang Al-Qur’an kepada para narapidana bimbingannya yang ada di Lapas kelas I Porong.

Kajian Al-Qur’an dan pelajaran tentang Islam lainnya diajarkan setiap hari kecuali hari libur. Dimulai jam 08.30 pagi hingga siang. Meirina sendiri ditugaskan yayasan mengajar pada Hari Kamis. Ruangan sebagai tempat ia mengajar Agama Islam di Lapas kelas I Porong dinamakan “madrasah” . Program mengajarkan berbagai hal tentang kerohanian Islam itu oleh pihak Yayasan Sekar Mentari disebut dengan sistem Kejar Paket Sekolah Dasar (KPSD).

“Setiap orang pasti punya titik hitam (salah dan dosa, red) di masa lalu untuk menghapusnya mari perbanyak amal kebaikan” tutur Meirina.

Itu sebabnya mengapa jiwanya terpanggil hingga secara ihlas bersedia mengajar para napi. Baginya mendidik para napi merupakan salah satu cara menebar amal kebaikan di muka bumi ini. Membimbing dan mengarahkan para napi tentu bukan pekerjaan mudah. Hebatnya lagi perempuan muda ini justru semakin tertantang untuk menyelami kehidupan para napi hingga ia tahu betul bagaimana trik mengajar para napi yang rata-rata temperamental itu.

Meirina bukan sekedar pendidik ilmu Agama Islam tapi lebih dari itu ia juga menjadi seorang kawan yang siap membantu memecahkan kesulitan para napi itu. Tak heran bila para napi yang identik dengan sosok berperangai kasar dan sangar ternyata bisa tunduk dengan ketenangan jiwa seorang Meirina.

“Napi kasus pembunuhan dan kasus berat lainnya lebih mudah menerima pelajaran ketimbang napi yang terjerat pelecehan seksual” ungkapnya.

Selama hampir sepuluh tahun mengajar di penjara, Meirina menyimpulkan bahwa mereka yang tersangkut kasus pembunuhan dan tindak kejahatan berat lainnya rata-rata lebih mudah mencerna dan menerima pelajaran (Kajian Qur’an dan pelajaran Islam lainnya, red) yang disampaikan daripada para napi kasus narkoba atau tindak pelecehan seksual.

“Mungkin karena para pembunuh atau teroris itu terbiasa memeras otaknya (berpikir menghilangkan jejak, red) hingga gampang menyerap pelajaran” lanjutnya. Mei mengakui kalau hanya sebagian kecil saja napi yang tertarik mengikuti pelajaran ilmu Agama Islam atau pengetahuan Islam lainnya bila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan napi yang menghuni Lapas. Kadang dalam satu kelas muridnya paling mencapai 20 sampai 30 orang.

Baginya bukan soal banyaknya murid dalam kelas melainkan seberapa besar pendidikan agama yang ia sampaikan benar-benar menyentuh hati dan merubah watak seorang napi hingga menjadi manusia yang lebih baik saat kembali ke masyarakat nanti. Dan itu diakui Mei sebagai kebanggaan terbesar dalam hidupnya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Diam-diam saya bertanya kepada beberapa murid TK dan napi yang diajar Meirina, semuanya mengatakan kalau Meirina merupakan sosok guru yang bukan hanya baik tapi juga kapabel dan berwibawa. Salah seorang napi dalam kelas madrasah mengaku sungkan berulah macam-macam bila Meirina sedang sibuk menerangkan. “Bu Mei sangat kami hormati dan segani” begitu tutur napi itu.

Berbisnis Roti Maryam

Meski hari-harinya disibukkan dengan kegiatan mendidik siswa TK dan para napi yang notabene merupakan tugas sosial-kemanusiaan, kesibukan itu tak lantas menjadikan ruang gerak Meirina terbatasi . Asal tahu saja di tengah aktivitasnya itu ia masih menyempatkan diri berwira-usaha yakni dengan memproduksi Roti Maryam. Perempuan muda ini tak serta merta melejit begitu saja. Sebelum menekuni bisnis Roti Maryam, Meirina pernah mengisi waktu luangnya dengan mengumpulkan barang-barang rongsokan.

Roti Maryam itu sejenis Roti Canai (Cane). Biasanya kita temukan di perkampungan muslim India. Di Negara Malaysia dan Singapore ada yang menyebutnya sebagai Roti Telur. Roti ini biasanya dihidangkan dengan kuah kare. Kalau Roti Maryam yang umum kita jumpai biasanya mempunyai rasa tawar dan gurih, lain lagi dengan Roti Maryam buatan Meirina, ada rasa manisnya dan itu yang menjadikan roti buatan Meirina itu lebih banyak yang menyukainya.

Untuk satu paket berisi 10 biji ia hargai 20 ribu rupiah. Harga yang terjangkau dan rasa yang bikin nagih menjadikan Meirina kebanjiran order.

“Sabtu besok saya menerima pesanan 500 biji Roti Maryam” cetus Meirina usai mengajar kawan-kawan napi.

Meski gadis belia berparas manis itu sungkan merinci berapa hasil yang diperolehnya dari berbisnis Roti Maryam nyatanya ia sanggup menopang kehidupan sehari-hari ibu dan adiknya juga biaya kuliahnya.

“Alhamdulillah, ada saja yang pesan Roti Maryam kreasi saya” kata Meirina dengan bangga.

Mendidik siswa TK dan para napi jelas bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan ketelatenan, jiwa sosial, rasa kemanusiaan dan kesabaran yang tinggi. Itulah yang biasa dilakukan Meirina sejak ia masih berusia muda.

Ia tetap kukuh memperjuangkan tiga hal yaitu aqidah Agama Islam yang dianutnya, prinsip kesetaraan wanita menurut konsep Islam bukan ala feminisme barat dan kewirausahaan (enterpreneurship). Bila memperhatikan sepak terjang Meirina Wanti sepertinya ia pantas menjadi salah satu sosok inspiratif di dunia pendidikan dan kemanusiaan kita.