Sekilas Tentang Meirina, Perempuan Inspiratif Yang Mengabdikan Dirinya Untuk Anak-Anak dan Narapidana

Menemukan sosok muda yang inspiratif di bidang pendidikan dan kemanusiaan di jaman sekarang ini jelas tidak mudah. Kaum muda dewasa ini umumnya identik dengan budaya hura-hura, egoisme, santai dan masih banyak lagi julukan buruk lainnya yang disandang.

Kalau kemudian ada segelintir orang yang telah berbuat kebaikan sering dipandang sebagai hal aneh dan tentu saja banyak mendapat sorotan karena mengundang rasa penasaran masyarakat luas. Apalagi dengan maraknya teknologi internet belakangan ini, perbuatan baik atau buruknya seseorang bisa diblow up lewat sosial media sedemikian rupa sehingga tidak kelihatan mana yang benar-benar tulus ihlas atau hanya sekedar berpura-pura alias setingan belaka.

Dalam kehidupan nyata kadang perbuatan seseorang tidak asli adanya. Hal yang mungkin sudah menggejala ialah bahwa berbuat baik itu kini sudah tidak dilandasi perasaan tulus ihlas, kadang hanya termotivasi untuk meninggikan citra terhadap diri orang itu. Tapi kita tak perlu pesimis, tentu saja masih ada permata-permata muda yang bisa kita temukan di muka bumi ini. Sosok muda yang sebenar-benarnya menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Salah satunya adalah Meirina Wanti.

Pengamatan terhadap kiprah sosok muda yang satu ini bukan dalam hitungan satu atau dua tahun tapi semenjak ia masih duduk di bangku kelas tiga SMP hingga di usianya yang pada 22 Mei 2016 mendatang menginjak 24 tahun. Untuk mengetahui lebih jauh tentang siapa sebenarnya Meirina Wanti mari kita lihat kesehariannya.

Pendidik Sekolah Taman Kanak-kanak

Setiap hari sekitar pukul 06.00 pagi Meirina Wanti sudah harus bersiap di sekolah Taman Kanak-kanak (TK) yang ada di Kota Sidoarjo tempat di mana ia mengajar. Kadang ia masih harus menyelesaikan tugas mengajarnya hingga pukul delapan sampai sepuluh malam. Sekolah TK yang didirikan oleh Yayasan Sekar Mentari itu tidak hanya menerima siswa TK tapi juga play group dan juga menerima penitipan bayi.

Yayasan Sekar Mentari sendiri sebenarnya sudah berdiri sejak 23 tahun silam. Sekar Mentari merupakan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Lembaga itu memiliki dua program yaitu program pendidikan play group, Taman Kanak-kanak (TK), Lembaga Bimbingan Belajar (LBB), Taman Pembinaan Al-Qur’an (TPQ). Sementara program sosial melakukan pengajaran di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang ada di Kabupaten Sidoarjo.

Program belajar untuk anak-anak TK dimulai pukul 07.30 pagi, sebelum masuk ruang kelas para guru yayasan membiasakan para muridnya untuk melakukan ritual pagi yakni dengan berdoa. Pada Hari Jum’at dan Sabtu proses belajar mengajar berjalan lebih santai, siswa diajak berjalan-jalan keliling sekitar sekolahan mereka. Kebiasaan menabung dan berinfaq juga ditanamkan untuk para murid TK yayasan Sekar Mentari.

Setiap anak didiknya selesai memasukkan infaq ke kotak amal, Meirina senantiasa mendo’akan murid-muridnya dengan kalimat “hari ini kamu telah berinfaq semoga Allah memberikan pahala atas amalanmu itu”. Begitu pula pada saat menabung, Meirina selalu mendo’akan setiap anak didiknya agar menjadi manusia yang pandai berhemat, hidupnya tidak boros. Uang yang berhasil ditabung oleh sang murid hendaknya dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja termasuk untuk biaya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Mendidik anak-anak play group dan TK butuh ketelatenan dan kesabaran, mereka adalah tunas-tunas bangsa” ungkap Meirina saat saya temui di kantornya pada Jum’at(8/1/2016) pagi itu.

Menghadapi siswa play group dan TK ternyata bukan pekerjaan mudah. Gara-gara pola-tingkah siswanya yang sulit diarahkan kadang ia menjadi emosi. Itu diakuinya saat awal-awal bergabung dengan Yayasan Sekar Mentari. Meirina kini memiliki 28 orang siswa, dua orang diantaranya merupakan anak berkebutuhan khusus.

“Jam terbanglah (pengalaman, red) yang menjadikan saya sanggup mendidik anak-anak itu” tuturnya sambil menunjuk ke arah siswa-siswa TK yang sedang bermain.

Meirina bukan sekedar pengajar sekolah play group atau TK, berkat ketekunannya ia kini diangkat oleh yayasan yang dipimpin oleh Bu Rosida Ekowati itu sebagai direktur pelaksana.

Sebagai pengajar berpengalaman ia tak lantas mengumbar amarah ketika melihat rekan guru bawahannya yang telah berbuat kekeliruan dalam memperlakukan murid-muridnya. Ia tetap santun menegur dan mengarahkan rekan guru yang menjadi bawahannya itu.

“Dibutuhkan kepekaan dalam mendidik siswa-siswi yang masih usia kanak-kanak itu” ungkapnya.

Saat melihat murid-muridnya mengalami kesulitan atau bahkan berbuat nakal, Meirina dan rekan-rekan guru lainnya dituntut untuk tanggap dan segera membantu memecahkan masalahnya.

“Usia kanak-kanak identik dengan bermain dan bernyanyi. Pola pendidikannya tentu diarahkan sesuai cara berpikir anak-anak. Meski demikian anak-anak tetap dilatih berani bertanya atau mengungkapkan pendapatnya” lanjut Meirina.

Kadang Meirina dan rekannya merasa kewalahan dengan kekritisan anak-anak didiknya. Itu terlihat saat sekolahan mengadakan program studi tur. Para murid bukan cuma senang bermain, tapi di sela-sela bermain itu mereka kritis bertanya kepada gurunya tentang apa saja saat program studi tur berlangsung.

“Menjadi pendidik anak-anak (play group/TK/TPQ, red) harus bisa memposisikan diri kita layaknya orang tua kandung mereka” tegas Meirina.

Saat siswa datang ke sekolah, para guru menyambutnya dengan salam, kata-kata yang santun dan ramah juga peluk cium. Kadang bila orang tua repot atau sakit sehingga tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah maka sang gurulah yang dengan ihlas menjemput siswa tadi ke rumahnya agar tetap bisa mengikuti proses belajar dengan baik.

Para guru yang mengajar di play group atau TK milik yayasan Sekar Mentari itu sekaligus ditugaskan untuk membina siswa yang terdiri dari para narapidana (napi) Lapas kelas I Porong dan Lapas kelas II A Sidoarjo.

Perjalanan kariernya sebagai pengajar diawali ketika ia bersama ibundanya rajin mengikuti acara pengajian di daerahnya. Di sanalah untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Rosida Ekowati yang tak lain adalah pemilik Yayasan Sekar Mentari. Melihat potensi Meirina yang luar biasa akhirnya Rosidapun merekrutnya sebagai pengajar di yayasannya.

Perempuan kelahiran 24 tahun silam itu menekuni karier sebagai guru TK di yayasan yang terletak di Kompleks Perumahan Puri Indah Sidoarjo itu sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga SMP. Meirina tidak bekerja sendirian, bersama empat orang guru lainnya mereka bahu-membahu memajukan yayasan Sekar Mentari.

Mei demikian sapaan akrab Meirina Wanti mengisahkan bahwa dirinya merupakan anak dari kalangan biasa. Kesehariannya diwarnai kesederhanaan, kedua orang tua Mei benar-benar menanamkan pendidikan Agama Islam bagi setiap putra-putrinya. Sang ayah telah lama tiada, bersama sang ibu tercinta dan adik kandungnya, Mei kini tinggal di kawasan Sepande, Sidoarjo-Jawa Timur. Sementara kedua kakaknya sudah berumah tangga sendiri.

Meniti karier sebagai pendidik sekolah taman kanak-kanak memang tidak mudah, tak seenak yang dibayangkan orang. Beberapa tahun pertama mengajar ia mendapatkan gaji yang sangat minim tapi untuk remaja seusianya gaji yang tak layak itu sangat disyukurinya.

Keahlian mendidik anak-anak TK ia peroleh secara otodidak murni, hanya lewat pelatihan-pelatihan dan pengalaman berorganisasi. Meirina Wanti mengaku tidak secara khusus belajar di sekolah pendidikan guru taman kanak-kanak (PG TK). Ia kini masih tercatat sebagai mahasiswa semester 11 Jurusan Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya.

“Saat ini saya masih aktif sebagai pengurus pusat organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII)” tukasnya.

Pengalaman berorganisasi menjadikan Mei berpikir matang dan itulah yang antara lain menjadi modal baginya untuk sanggup mengajar di Yayasan Sekar Mentari.

Mengajar Para Narapidana

Meirina Wanti merupakan salah satu tenaga pendidik Yayasan Sekar Mentari yang juga bertugas mengajar Agama Islam (kajian Al-Qur’an) kaum narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas I Porong, Sidoarjo dan Lapas kelas II A yang ada di pusat Kota Sidoarjo, tepatnya persis di depan alun-alun kota.

Lapas kelas I Porong selama ini dikenal sebagai Lapas yang dihuni oleh para tahanan kelas kakap. Para pembunuh dan teroris khabarnya juga menghuni Lapas itu. Daya tampung Lapas kelas I bisa mencapai 1000 narapidana. Sementara Lapas kelas II A punya daya tampung sebanyak 400 – 500 orang.

Mendidik para narapidana apalagi bagi seorang pengajar (guru) wanita tentu terasa menakutkan. Tapi tidak bagi Meirina, ia bahkan sudah melakoninya selama lebih kurang sembilan tahun.

Kamis pagi (14/01/2016) saya mencoba melihat langsung bagaimana Meirina mengajarkan Agama Islam, khususnya kajian tentang Al-Qur’an kepada para narapidana bimbingannya yang ada di Lapas kelas I Porong.

Kajian Al-Qur’an dan pelajaran tentang Islam lainnya diajarkan setiap hari kecuali hari libur. Dimulai jam 08.30 pagi hingga siang. Meirina sendiri ditugaskan yayasan mengajar pada Hari Kamis. Ruangan sebagai tempat ia mengajar Agama Islam di Lapas kelas I Porong dinamakan “madrasah” . Program mengajarkan berbagai hal tentang kerohanian Islam itu oleh pihak Yayasan Sekar Mentari disebut dengan sistem Kejar Paket Sekolah Dasar (KPSD).

“Setiap orang pasti punya titik hitam (salah dan dosa, red) di masa lalu untuk menghapusnya mari perbanyak amal kebaikan” tutur Meirina.

Itu sebabnya mengapa jiwanya terpanggil hingga secara ihlas bersedia mengajar para napi. Baginya mendidik para napi merupakan salah satu cara menebar amal kebaikan di muka bumi ini. Membimbing dan mengarahkan para napi tentu bukan pekerjaan mudah. Hebatnya lagi perempuan muda ini justru semakin tertantang untuk menyelami kehidupan para napi hingga ia tahu betul bagaimana trik mengajar para napi yang rata-rata temperamental itu.

Meirina bukan sekedar pendidik ilmu Agama Islam tapi lebih dari itu ia juga menjadi seorang kawan yang siap membantu memecahkan kesulitan para napi itu. Tak heran bila para napi yang identik dengan sosok berperangai kasar dan sangar ternyata bisa tunduk dengan ketenangan jiwa seorang Meirina.

“Napi kasus pembunuhan dan kasus berat lainnya lebih mudah menerima pelajaran ketimbang napi yang terjerat pelecehan seksual” ungkapnya.

Selama hampir sepuluh tahun mengajar di penjara, Meirina menyimpulkan bahwa mereka yang tersangkut kasus pembunuhan dan tindak kejahatan berat lainnya rata-rata lebih mudah mencerna dan menerima pelajaran (Kajian Qur’an dan pelajaran Islam lainnya, red) yang disampaikan daripada para napi kasus narkoba atau tindak pelecehan seksual.

“Mungkin karena para pembunuh atau teroris itu terbiasa memeras otaknya (berpikir menghilangkan jejak, red) hingga gampang menyerap pelajaran” lanjutnya. Mei mengakui kalau hanya sebagian kecil saja napi yang tertarik mengikuti pelajaran ilmu Agama Islam atau pengetahuan Islam lainnya bila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan napi yang menghuni Lapas. Kadang dalam satu kelas muridnya paling mencapai 20 sampai 30 orang.

Baginya bukan soal banyaknya murid dalam kelas melainkan seberapa besar pendidikan agama yang ia sampaikan benar-benar menyentuh hati dan merubah watak seorang napi hingga menjadi manusia yang lebih baik saat kembali ke masyarakat nanti. Dan itu diakui Mei sebagai kebanggaan terbesar dalam hidupnya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Diam-diam saya bertanya kepada beberapa murid TK dan napi yang diajar Meirina, semuanya mengatakan kalau Meirina merupakan sosok guru yang bukan hanya baik tapi juga kapabel dan berwibawa. Salah seorang napi dalam kelas madrasah mengaku sungkan berulah macam-macam bila Meirina sedang sibuk menerangkan. “Bu Mei sangat kami hormati dan segani” begitu tutur napi itu.

Berbisnis Roti Maryam

Meski hari-harinya disibukkan dengan kegiatan mendidik siswa TK dan para napi yang notabene merupakan tugas sosial-kemanusiaan, kesibukan itu tak lantas menjadikan ruang gerak Meirina terbatasi . Asal tahu saja di tengah aktivitasnya itu ia masih menyempatkan diri berwira-usaha yakni dengan memproduksi Roti Maryam. Perempuan muda ini tak serta merta melejit begitu saja. Sebelum menekuni bisnis Roti Maryam, Meirina pernah mengisi waktu luangnya dengan mengumpulkan barang-barang rongsokan.

Roti Maryam itu sejenis Roti Canai (Cane). Biasanya kita temukan di perkampungan muslim India. Di Negara Malaysia dan Singapore ada yang menyebutnya sebagai Roti Telur. Roti ini biasanya dihidangkan dengan kuah kare. Kalau Roti Maryam yang umum kita jumpai biasanya mempunyai rasa tawar dan gurih, lain lagi dengan Roti Maryam buatan Meirina, ada rasa manisnya dan itu yang menjadikan roti buatan Meirina itu lebih banyak yang menyukainya.

Untuk satu paket berisi 10 biji ia hargai 20 ribu rupiah. Harga yang terjangkau dan rasa yang bikin nagih menjadikan Meirina kebanjiran order.

“Sabtu besok saya menerima pesanan 500 biji Roti Maryam” cetus Meirina usai mengajar kawan-kawan napi.

Meski gadis belia berparas manis itu sungkan merinci berapa hasil yang diperolehnya dari berbisnis Roti Maryam nyatanya ia sanggup menopang kehidupan sehari-hari ibu dan adiknya juga biaya kuliahnya.

“Alhamdulillah, ada saja yang pesan Roti Maryam kreasi saya” kata Meirina dengan bangga.

Mendidik siswa TK dan para napi jelas bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan ketelatenan, jiwa sosial, rasa kemanusiaan dan kesabaran yang tinggi. Itulah yang biasa dilakukan Meirina sejak ia masih berusia muda.

Ia tetap kukuh memperjuangkan tiga hal yaitu aqidah Agama Islam yang dianutnya, prinsip kesetaraan wanita menurut konsep Islam bukan ala feminisme barat dan kewirausahaan (enterpreneurship). Bila memperhatikan sepak terjang Meirina Wanti sepertinya ia pantas menjadi salah satu sosok inspiratif di dunia pendidikan dan kemanusiaan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s