Kisah Umar Bin Khattab Tentang Hak Anak Terhadap Orang Tua

​Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khattab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal.

Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?”

Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”

Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

Dari kisah Umar bin Khaththab tersebut, kita bisa mengetahui bahwa ketika hendak menikah, jangan hanya memilih calon suami atau istri, tapi juga memilih calon ayah dan calon ibu yang baik untuk anak kita kelak.

Jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam mencarikan calon orangtua terbaik untuk anak kita kelak, sama saja kita telah melanggar hak anak untuk dilahirkan dari rahim seorang ibu yang baik, dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dari sang ayah.

Mengajari Buah Hati Kita Membaca Al Qur’an

Dari ‘Utsman radhiyallahu’anhu,  dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari no.5027)

Berikut kami berbagi tips tentang bagaimana mudah mengajari buah hati kita membaca al-qur’an.

Sebelum kita membacakan kepada anak kita ayat-ayat al qur’an, kita harus terlebih dahulu yakin bahwa anak kita telah benar-benar fokus dan menyimak apa yang kita baca. Supaya hal tersebut dapat dengan mudah terwujud berikut beberapa hal yang perlu orang tua ketahui :

  • Anak menyimak bacaan ayat qur’an sehingga sanggup menirukan setiap harakat, huruf dan wakaf secara benar.
  • Bacaan atau lantunan yang merdu akan membuat anak menjadi khusyu’ dan menghormati setiap bacaan qur’an. Selain itu juga melatih anak panjang pendek harakat dan tajwid.
  • Alangkah lebih baik jika orang tua tidak terlalu memaksa anak agar cepat bisa lancar membaca al qur’an. Memberinya bacaan-bacaan yang ringan terlebih dahulu dan menjelasakan makna ayat perayat akan memudahkan sang buah hati dalam mempelajari qur’an.
  • Sering memutarkan lantunan/melantunkan ayat al qur’an kepada buah hati.
  • Anak diminta membaca ayat dari suatu surat sepenggal demi sepenggal lebih dari sekali. (Mengulang-ulang tapi juga perlu diketahui tingkat kebosanan sang anak).
  • Orang tua atau pengajar dianjurkan segera membenarkan bacaan qur’an anak yang salah tanpa harus menundanya. Hal ini dilakukan untuk menghindari lupa dan membiasakan sang buah hati selalu benar bacaannya sampai dewasa kelak.
  • Jika buah hati yang sedang belajar membaca qur’an lebih dari satu orang, suruh salah satu diantara mereka membaca dan yang lain menyimak serta mengkoreksi. Begitu terus menerus dan dilakukan secara bergantian.
  • Untuk beberapa karakter anak ada yang bertipe mudah menyerap pelajaran jika ia paham makna dari apa yang ia pelajari. Biasakan mendiskusikan arti atau makna suatu ayat (yang ringan-ringan terlebih dahulu).
  • Jangan lupa memberitahu kepada buah hati bahwa membaca qur’an adalah perintah agama yang mana melakukannya akan mendapat pahala yang besar dari Allah SWT.
  • Orang tua atau pengajar harus mempunyai target untuk progress bacaan qur’an anak, dengan melihat kemampuan anak dalam menangkap pelajaran.

Untuk saat ini hanya beberapa tips di atas saja yang bisa kami berikan. Mungkin seiring berkembangnya zaman berkembang pula metode pengajaran menuju ke arah lebih baik. Perlu diingat bahwa mengajar si buah hati membaca al qur’an hal yang paling dibutuhkan adalah kesabaran. Karena ibu dari segala kerja keras adalah sabar. 

Yayasan Sekar Mentari – Penitipan Anak, Play Group, Taman Kanak-Kanak —-> Kabupaten Sidoarjo

Membukan pendaftaran murid baru (setiap hari).

Yayasan Sekar Mentari —> Perumahan Puri Indah Blok R-12, Sidoarjo, Jawa Timur.
No.Tlp 081354584837 & 085331433385
Instagram : sekarmentari.yayasan
Facebook : Sekar Mentari

https://www.facebook.com/YayasanSekarMentari/

https://sekarmentariyayasan.wordpress.com/

#PenitipanAnak #PlayGroup #TamanKanakKanak #LembagaBimbinganBelajar #KoperasiOrganik #BiroDakwah

Contact Person Yayasan Sekar Mentari (Penitipan Anak – Play Group – Taman Kanak-Kanak – Lembaga Bimbingan Belajar – Koperasi Organik – Biro Dakwah)

Yayasan Sekar Mentari —> Perumahan Puri Indah Blok R-12, Sidoarjo, Jawa Timur.

No.Tlp 081354584837 & 085331433385
Instagram : sekarmentari.yayasan
Facebook : Sekar Mentari
https://www.facebook.com/YayasanSekarMentari/
https://sekarmentariyayasan.wordpress.com/

#PenitipanAnak #PlayGroup #TamanKanakKanak #LembagaBimbinganBelajar #KoperasiOrganik #BiroDakwah

3 Tipe Belajar Anak


Setiap anak memiliki kemampuan dan karakter belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu diperlukan pendekatan dan teknik mengajar yang berbeda juga.

Di sekolah pada umumnya mungkin metode pengajaran disamakan untuk semua murid. Sebagai orang tua kita bisa membantu anak-anak kita agar bisa menerima pelajaran dengan baik. Tapi sebelum itu kita perlu mengetahui karakter dan tipe belajar anak.

Dikutip dari salah satu warta visual detik.com, tipe belajar anak secara garis besar dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu visual, audotiry dan kinestetik. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai tipe-tipe tersebut.

1. Visual, Tipe visual bisa menyerap pelajaran lebih baik dengan melihat. Mereka lebih suka melihat atau membaca terlebih dulu sebelum belajar hal-hal baru. Diperkirakan, sebanyak 80% pelajaran bisa dimengerti melalui penglihatannya. Membaca buku dan melihat gambar adalah cara belajar yang paling disukainya.

Tipe visual juga biasanya memilih duduk di kursi terdepan di sekolahnya, agar dia bisa melihat dengan jelas guru dan papan tulis. Mereka sangat bagus menuliskan ulang apa yang ada di papan tulis, tapi kadang suka terlewat instruksi yang diberikan secara lisan.

Coba perhatikan tingkah laku anak Anda saat mengerjakan pekerjaan rumah. Jika si anak lebih mudah mengerti dengan membaca, tertarik pada gambar, diagram, tabel serta grafik; kemungkinan besar anak Anda punya tipe belajar visual. Maka untuk membantunya belajar di rumah, sediakan papan tulis serta gambar-gambar menarik sebagai komponen pendukung agar dia lebih mudah mengerti dan tertarik belajar.

2. Auditory, Anak dengan tipe belajar auditory, harus mendengarkan pelajaran mereka untuk memahaminya. Mereka lebih suka segala sesuatunya dijelaskan dengan perkataan. Tanyakan pada anak Anda, apakah dia lebih suka menyimak pelajaran dari papan tulis atau saat guru mendiktenya? Jika dia memilih yang kedua, maka si anak adalah tipe auditory.

Tipe pendengar biasanya merekam informasi yang telah diucapkan. Beberapa dari mereka bahkan merasa lebih nyaman belajar jika disertai suara musik pelan. Mereka biasanya mengingat pelajaran dalam bentuk lagu favorit atau puisi. Keuntungan dari tipe ini, mereka tidak mudah bosan belajar, selama materinya disampaikan dengan cara audio.

Bila anak Anda termasuk tipe auditory, Anda bisa membekalinya dengan perangkat audio seperti MP3 player yang dilengkapi fitur audio recording. Sebelumnya, minta bantuan guru di sekolahnya untuk menyampaikan materi secara visual maupun audio dengan intensitas yang sama. Dengan begitu, anak dengan kemampuan belajar visual maupun auditory bisa sama-sama menyerap pelajaran dengan baik. Namun jika si anak tetap sulit menangkap pelajaran –karena sebagian besar sekolah reguler menerapkan metode pengajaran visual– Anda bisa memasukkannya ke sekolah privat atau home schooling.

3. Kinestetik, Anak dengan kemampuan belajar kinestetik tidak bisa hanya duduk tenang dan menunggu informasi disampaikan. Mereka tertarik mencari sendiri hal-hal yang ingin mereka tahu tanpa harus selalu membaca buku panduan. Oleh karena itu, tipe ini cenderung tidak bisa diam dan kerap dianggap anak nakal karena kerap tidak bisa diam dan sulit mendengarkan penjelasan guru di sekolah.

Selain itu, tipe kinestetik sangat suka berjalan-jalan karena mereka melihat lingkungan sekitar dengan cara berbeda. Bagi mereka, bumi adalah sebuah taman bermain raksasa yang penuh dengan berbagai hal menarik yang ingin mereka ketahui dan jelajahi.

Tanyakan pada anak Anda, ketika mendengar kata ‘kucing’, apa yang langsung terlintas dalam pikirannya? Jika ia mengatakan; ‘hewan dengan bulu-bulu halus’, kemungkinan besar si anak adalah tipe kinestetik. Sentuhan dan rasa sangat penting baginya dan dia lebih tertarik pada pelajaran yang bersifat eksperimen dan study tour.

Ajari dia belajar dengan cara mencontohkan apa yang harus dia lakukan. Tipe kinestetik menangkap informasi baru dengan melihat apa yang dilakukan orang lain, lalu mencobanya sendiri. Gunakan balok-balok atau magnet bertuliskan huruf alfabet untuk ajarkan dia mengeja. Si anak akan mengingat huruf-huruf dengan menyentuh dan memindah-mindahkannya. Buat aktivitas belajar dalam beberapa sesi dengan waktu yang pendek, dan tawarkan istirahat sebentar di setiap akhir sesi agar tidak lelah.

Yayasan Sekar Mentari —> Penitipan Anak, Play Group, Taman Kanak-Kanak & Lembaga Bimbingan Belajar

Perumahan Puri Indah Blok R-12, Sidoarjo, Jawa Timur.

No.Tlp 081354584837 & 085331433385

Membimbing Anak Bermedia Sosial

Perkembangan teknologi, media sosial dan smart phone yang kian hari semakin pesat adalah sebuah fenomena yang kita sendiri sebagai orang tua tidak bisa membendungnya (lebih tepatnya melarangnya terhadap anak). Sebaliknya sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk melindungi putra dan putrinya yang aktif bermedia sosial, karena memang beberapa hal di dalam dunia maya atau internet terdapat sisi negatif walaupun memang tidak sedikit pula sisi positif di dalamnya.

Berikut beberapa panduan bagi para orang tua dalam membimbing anaknya bermedia sosial san berinternet :

  • Orang tua harus terlebih dahulu memahami media sosial. Memahami seluk-beluk media sosial dan perbedaan antara satu platform dengan yang lainnya atau satu media sosial dengan yang lainnya, mencobanya dan merasakan langsung bermedia sosial tentu akan memudahkan orang tua dalam mengawasi putra-putrinya yang aktif bermedia sosial. Bagaimana seorang sarjana muda mengajari muridnya sedang si murid ternyata seorang profesor.
  • Memberi dan menjadi contoh yang baik bagi anak.
  • Membatasi usia anak untuk bermedia sosial. Tidak semua hal yang ada di internet maupun media sosial adalah untuk anak-anak (artinya untuk dewasa). Para orang tua perlu mengetahui batas umur suatu media sosial. Misalnya situs-situs yang memang dikhususkan hanya untuk orang dewasa. Juga jangan lupa bahwa orang tua harus cerdas memberi fasilitas internet (komputer atau gadget) kepada anak, tidak semua permintaan anak harus dituruti.
  • Berdiskusi dengan anak tentang dampak internet dan sosial media. Membicarakan dengan langsung kepada anak tentang sisi positif dan negatif internet, tentang konsekuensi bermedia sosial. Diskusi dengan putra-putri adalah hal baik yang bisa dilakukan orang tua kepada anaknya, selain mengajarkan kepada anak keterbukaan pikiran juga menjaga agara hubungan anak dengan orang tua semakin dekat. Diskusi adalah jalan keluar yang baik dalam menyelesaikan masalah.
  • Pantau gadget anak dan privasinya.
  • Beri peraturan dalam penggunaan teknologi kepada anak. Teknologi adalah akses dunia maya atau internet, banyak hal-hal berkonten dewasa yang mana tidak diperbolehkan untuk diakses oleh anak-anak. Menetapkan peraturam contohnya memberi waktu kapan anak boleh bermain komputer atau gadget, menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu, meletakkan komputer di ruang yang terbuka (ruang keluarga, misalnya), meminimalkan akses anak ke sosial media dengan cara menyibukkannya dengan kegiatan-kegiatan yang positif karena sebenarnya dunia yang baik bagi anak adalah dunia bermain bukan dunia maya.


    Surat Al Ahzab Ayat 59, Tentang Menutup Aurat

    ​Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mu’min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ketubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. (al-Ahzab (33): 59)

    Ayat 59 surat al-Ahzab (33), termasuk ayat-ayat Madaniyah, sebab seluruh ayat dari surat al-Ahzab adalah Madaniyah. (al-Qasimiy, 1978, XIII:221)

    Adapun sabab nuzul ayat tersebut, menurut riwayat Abi Salih ialah sebagai berikut: Ketika Rasulullah saw datang di Madinah, jika istri beliau dan para wanita muslimah keluar malam untuk suatu keperluan, sering diganggu oleh orang-orang laki-laki yang duduk dipinggir jalan. Setelah dilaporkan kepada Rasulullah, maka turunlah ayat ini (al-Ahzab, (33):59). (at-Tabariy, tt, Tafsir at-Tabariy, XXII:34). 

    Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat sebenarnya telah melakukan dosa besar dan sangat tercela, maka pada ayat berikutnya, Allah memerintahkan pada Nabi saw agar para isteri beliau dan para wanita muslimat menutup aurat dengan sebaik-baiknya, supaya mudah dibedakan antara orang yang terhormat dan orang yang tidak terhormat, untuk menjaga diri dari gangguan laki-laki jahat yang sering mengganggu di pinggir jalan. 

    Pada permulaan masa Islam, di Madinah masih banyak orang jahat yang suka mengganggu wanita, sebab para wanita pada waktu itu masih selalu memakai pakaian harian sebagaimana pada masa jahiliyah, sehingga tidak dapat dibedakan antara orang terhormat dan orang yang tidak terhormat. Kadang-kadang mereka menggangu wanita muslimah dengan alasan tidak dapat mengenalnya, dan menyangkanya sebagai wanita yang tidak terhormat, karena itulah wanita muslimah diperintahkan memakai mode pakaian yang berbeda dengan mode pakaian yang dipakai oleh wanita yang tidak terhormat. (al-Qasimiy, 1978, XIII:4908). 

    Al-Qurtubiy dalam tafsirnya mengatakan, pakaian penutup aurat hendaklah terbuat dari bahan yang tidak tembus pandang, agar warna kulit tidak kelihatan, dan berbentuk longgar, agar bentuk badannya tidak tampak, kecuali apabila sedang bersama suaminya, sebab pakaian tembus pandang dan sempit, tidak memenuhi fungsinya sebagai penutup aurat, maka Rasulullah saw pernah bersabda:

    “Kadang-kadang wanita berpakaian di dunia, tetapi telanjang di akhirat.” (al-Qurtubiy, tt, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, VI:5326). 

    Sekalipun ayat tersebut disampaikan dalam bentuk khabariyah (berita), tetapi didalamnya terkandung makna perintah yang menunjukkan kepada wujub (kewajiban). Menurut ilmu balaghah, bentuk khabariyah itu lebih baligh (tegas dan tepat) daripada bentuk insya’iyah amr (perintah), maka jelaslah bahwa menutup aurat merupakan kewajiban bagi kaum muslimin dan muslimat, bukan hanya keluarga Nabi saw, dan para wanita Madinah, sebab ayat tersebut berlaku umum, sekalipun diturunkan karena sebab khusus. 

    Allah memerintahkan Nabi-Nya agar umat Islam semuanya mentaati peraturan adab dan sopan santun Islam, petunjuknya yang mulia dan peraturan-peraturannya yang bijaksana, untuk kebaikan bersama, baik untuk kehidupan perseorangan maupun kehidupan bermasyarakat. Allah mewajibkan orang-orang muslimah untuk menutup auratnya agar kehormatannya terjaga dari pandangan yang menyakitkan, kata-kata yang menyengat, jiwa yang sakit dan niat jahat laki-laki yang tidak berakhlak, sebagaimana ditegaskan dalam surat an-Nur (24):31.

    Kewajiban menutup aurat bukanlah merupakan adat kebiasaan atau tradisi Arab sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang. Islam mewajibkan menutup aurat adalah bertujuan untuk memotong niat jahat para syaitan, sehingga mereka tidak dapat menggoda hati para laki-laki dan para wanita. Itulah yang dimaksudkan dengan firman-Nya: “Zalika azka lahum” (yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka). (an-Nur (24):30).

    Sumber : Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

    Hikmah Menahan Pandangan

    1. Mentaati perintah Allah yang menjadi pangkal kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat, sebab tiada yang lebih bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat kecuali mentaati perintah-Nya, maka orang yang paling celaka baik di dunia maupun di akhirat adalah orang yang membangkang terhadap perintah-Nya. 

    2. Mencegah masuknya pengaruh pandangan beracun ke dalam hati, sehingga selamat dari pembusukan. 

    3. Mendekatkan diri kepada Allah, sebab melepas pandangan akan mencerai beraikan hati dan menjauhkan diri dari Allah, tiada yang paling berbahaya selain jauh dari Allah, yang mengakibatkan tergelincir dalam kejahatan. 

    4. Mengokohkan hati nurani dan membahagiakannya, sebagaimana apabila mengumbar pandangan, akan melemahkan dan menjadikannya susah. 

    5. Menjadikan hati bercahaya, sebagimana menjadikan hati dalam kegelapan apabila mengumbar pandangan, maka ayat tersebut, Allah menjelaskan di surat an-Nur ayat 35 bahwa Dia menyinari langit dan bumi dengan sinar yang sangat indah dan terang benderang. Allah menyinari hati orang-orang mu’min yang mentaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, dan apabila hati telah bersinar, maka datanglah dari berbagai penjuru kebaikan-kebaikan, kebahagiaan dan sebagainya yang sangat bermanfaat. 

    6. Diberi ketajaman firasat, sehingga dapat membedakan antara orang yang jujur dan orang yang tidak jujur. Ibnu Suja’ al-Kirmaniy mengatakan: Barangsiapa lahirnya selalu mengikuti sunnah Rasul dan batinnya selalu mendekatkan diri kepada Allah, serta menahan pandangannya dari hal-hal yang haram, mengekang hawa nafsunya dan membiasakan makan yang halal, maka firasatnya tidak akan salah. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, ia akan diberi ganti yang lebih baik, barangsiapa selalu menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan Allah, ia akan diberi cahaya pandangan hati yang tajam, dan dibukakan baginya pintu ilmu pengetahuan, iman, ma’rifat serta firasat yang tepat dan benar, yang hanya diperoleh dengan pandangan hati. 

    7. Menanamkan rasa kemantapan, keberanian dan keteguhan dalam hati. Allah memadukan antara kekuatan pandangan hati dan hujjah. Hanya orang yang dapat meninggalkan hawa nafsunyalah yang dapat memisahkan antara syaitan dan bayangannya. Allah telah menjanjikan ketinggian martabat bagi orang yang mentaati-Nya, sebagimana ditegaskan dalam firman-Nya: 

    “Dan janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi martabatnya jika kamu orang-orang yang beriman” (Ali Imran (3): 139).

    8. Menutup pintu bagi syaitan, sehingga tidak dapat masuk dalam hati, sebab masuknya syaitan kedalam hati lewat pandangan mata.

    Sumber : Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

    Mengajarkan Putri Kecil Menutup Aurat

    Artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang beriman:” hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka “. (QS. Al Ahzab : 59)
    Mengenalkan kepada anak-anak sejak dini terutama perempuan mengenai jilbab, membiasakan kepada mereka mengenakannya setiap kali keluar rumah dan memberi mereka contoh adalah cara termudah bagi orang tua menumbuhkan rasa cinta putrinya mengenakan jilbab. Selain itu ada beberapa cara agar putri anda tidak canggung (saat sudah dewasa) dalam menggunakan jilbab. Bukan untuk apa-apa melainkan karena menutup aurat adalah syariat agama yang mana sebagai orang tua wajib mengamalkan dan mengajarkannya kepada putri-putri mereka.

    Berikut beberapa cara agar putri kecil kita terbiasa menggunakan jilbab (menutup aurat)

    1. Membiasakan pada putri kecil memakai pakaian muslimah. Di era yang modern dan terbuka seperti saat ini memang sedikit susah menerapkannya, apalagi karena jilbab atau pakaian muslimah dianggap tertutup dan kurang modis. Tetapi sebagai orang tua kita dapat mensiasatinya dengan pakaian panjang, sopan dan rapi namun tampak modis. Saat ini juga sudah banyak trendsetter berjilbab, jadi bukan tidak sulit menyemangati putri kecil untuk selalu modis dan menutup aurat.
    2. Jangan lupa untuk selalu memberikan putri kecil kita motivasi (dalam menutup aurat). Selain agar putri kecil kita selalu percaya diri mengenakan pakaian yang menutup aurat, juga agar hubungan kita (orang tua) kepada putri kecil kita selalu harmonis, dengan memujinya maka hubungan kita dengannya akan berjalan harmonis dan terbuka. Tapi ingatlah bahwa jangan sampai kita memberi pujian terlalu berlebihan karena nantinya malah yang tumbuh pada diri putri kecil kita adalah pribadi yang rapuh dan tak sanggup menerima kritik. Memberi motivasi dan pujiaan kepadanya dengan sejujur-jujurnya dan tidak berlebihan.
    3. Memilih bahan pakaian muslimah yang nyaman untuk putri kecil. Walaupun pakaian muslimah memang panjang dan tertutup yang terlihat panas atau gerah tetapi apabila bahan yang digunakan adalah bahan yang nyaman maka putri kecil tidak akan risih mengenakannya.
    4. Menciptakan lingkungan yang mendukung putri kecil agar selalu menutup aurat. Sebagai orang tua kita pastilah tahu bahwa lingkungan adalah faktor penting yang mempengeruhi perilaku dan sifat anak. Contoh gampangnya adalah dengan memilih ligkungan sekolah yang baik dan islami. Tapi apabila hal tersebut susah untuk diwujudkan (mengingat kemudahan akses dunia sekarang), sebagai orang tua kita tidak boleh menyerah untuk menasehati dan membimbing putri kecil kita.
    5. Ibunda harus memberi contoh. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, jika sejak awal bunda sudah memberi contoh mengenakan pakaian muslimah atau menutup aurat maka tidaklah susah membimbing putri kecil untuk menutup aurat. Karena idola sebenarnya para putri kecil adalah para orang tua yang baik.


      Latar Belakang Surah an Nur Ayat 30-31, Mengenai Aurat & Jilbab

      Sumber : Fatwa Aurat dan Jilbab – Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

      “Katakanlah kepada kaum mu’minin: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [an-Nur (24): 30] 

      2. “Katakanlah kepada para wanita yang beriman: Hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasanya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [an-Nur (24); 31]

      Ayat 30–31 surat an-Nur (24), tergolong ayat Madaniyah, menurut al-Muhaayimiy, seluruh ayat dari surat an-Nur adalah Madaniyah, sedang al-Qurtuby mengecualikan ayat: Ya ayyuhalladziina aamanuu liyasta’zinkum…(58) adalah Makkiyah. (al-Qasimy, 1978, XII:107).

      Sebab nuzul kedua ayat tersebut menurut suatu riwayat adalah sebagi berikut: 

      • Menurut riwayat yang ditakhrijkan oleh Ibni Mardawaih, dari ‘Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: Pada masa Rasulullah saw, ada seorang berjalan di suatu jalan di Madinah, kemudian dia melihat seorang wanita, dan wanita itupun melihatnya, lalu syaitan pun mengganggu keduanya sehingga masing-masing melihatnya karena terpikat. Maka ketika laki-laki tersebut mendekati suatu tembok untuk melihat wanita tersebut, hidungnya tersentuh tembok hingga luka. Lalu ia bersumpah: Demi Allah saya tidak akan membasuh darah ini hingga bertemu Rasulullah saw dan memberi tahu kepadanya tentang masalahku. Kemudian ia datang kepada Rasulullah dan menceritakan peristiwanya. Kemudian bersabdalah beliau: “Itu adalah balasan dosamu” lalu turunlah ayat. (as-Siyutiy, t.t., ad-Durrul Mansur, V:40).
      • Menurut riwayat yang ditakhrijkan oleh Ibnu Kasir, dari Muqatil ibni Hibban, dari Jabir ibni Abdillah al-Ansariy, ia berkata: “Saya mendengar berita bahwa Jabir ibni Abdillah al-Ansariy menceritakan, bahwa Asma’ binti Marsad, ketika berada di kebun kurma miliknya, datanglah kepadanya orang-orang wanita dengan tidak memakai izar (kain), sehingga tampaklah gelang kaki mereka dan dada mereka. Maka berkatalah Asma’: Ini tidak baik. Kemudian Allah menurunkan firmannya. (as-Siyutiy, 1954: Lubab an-Nuqul: 161).

      Sekalipun ayat tersebut diturunkan karena sebab tertentu, namun ayat tersebut berlaku untuk umum, yaitu seluruh kaum mu’minin. 

      Allah memerintahkan kepada kaum mu’minin agar menahan pandangannya terhadap wanita-wanita yang bukan mahramnya, dan melarang memandang kecuali hanya bagian yang diperbolehkan memandangnya. Juga memerintahkan agar menjaga farjinya dari perzinahan dan menutup auratnya hingga tidak terlihat oleh siapapun, sehingga hatinya menjadi lebih bersih dan terjaga dari kema’siatan. Sebab pandangan mata dapat menanamkan syahwat dalam hati, dan seringkali syahwat dapat mengakibatkan kesusahan yang sangat panjang. Apabila dengan tidak sengaja memandang sesuatu yang haram, maka hendaklah segera memalingkan pandangannya, dan jangan mengulanginya dengan pandangan yang penuh syahwat, sebab Allah Maha Mengetahui.

      Allah tidaklah hanya memberi peringatan kepada kaum mu’minin, melainkan juga kepada kaum mu’minat. Bahkan tidak hanya melarang memandang hal-hal yang haram, melainkan juga melarang menampakkan perhiasannya, kecuali kepada mahramnya, agar tidak mudah terpeleset dalam kema’siatan, namun apabila perhiasan tersebut terlihat tanpa disengaja, maka Allah Maha Pengampun.

      Pada masa jahiliyah perempuan suka membuka bagian leher, dada dan lengannya, bahkan sebagian tubuhnya, hanya sekedar untuk menyenangkan laki-laki hidung belang, dan laki-laki pun suka memandang aurat wanita, sebagaimana masa kini, bahkan pada masa kini mereka lebih berani, maka pantaslah jika masa kini disebut “jahiliyah modern”. Moral yang rendah itulah yang menjadi sumber kejahatan, baik masa lampau maupun masa kini.

      Untuk itulah Allah memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup auratnya dengan sempurna, dan melarang kaum pria mengumbar pandangannya untuk menjaga kejahatan yang lebih parah yang menimbulkan kekacauan dalam masyarakat, maka pemberantasan pornografi dan pornoaksi, baik di majalah-majalah, pentas seni maupun di sinetron perlu diintensifkan.

      Mengapa Allah melarang memandang aurat lain jenis? Sebab timbulnya kejahatan besar tidaklah mendadak, melainkan sedikit demi sedikit. Mula-mula dari pandangan, kemudian senyuman, perkenalan dan seterusnya. Syauqi dalam syairnya mengatakan: “Pada mulanya hanyalah pandangan, kemudian senyuman, kemudian salam, kemudian percakapan, kemudian perjanjian, lalu kencan.” 

      Seorang sastrawan berkata: “Cinta hanyalah pandangan demi pandangan, jika terus bersemi maka menjadilah perbuatan nyata”. (as-Sabuniy, 1971, Rawa’i’ul Bayan, II: 149)

      Dalam tafsirnya, Safwatut Tafasir, as-Sabuniy mengutip sebuah syair: “Sering-sering pandangan mata menyerang hati pemandangnya, bagaikan serangan anak panah tanpa busur dan tali”. (as-Sabuniy, 1981, Safwatut TafasirX:16). 

      Al-Qasimiy mengutip sebuah syair: “Semua peristiwa permulaannya adalah dari pandangan, dan sebagian besar api bermula dari percikan api kecil”. (al-Qasimy, 1978, XII:190)

      Pandangan mata sangat besar peranannya dalam kejahatan, maka pada ayat tersebut, perintah menahan pandangan disebutkan lebih dahulu dari perintah menjaga farji.