(Lini – Lini Setan) Qarin, Setan Pendamping

Ada setan yang selalu membuntuti ke mana pun manusia pergi. Sesekali membujuk dan merayunya untuk jatuh ke dalam lubang maksiat. Sesekali meninabobokkan ia dari kewajiban. Pada kali lain, setan itu juga membisikkan angan-angan hingga si korban menunda amal dan taubatnya.

“Tiada seorang pun dari kalian melainkan disertai satu Qarin dari setan.” Kemudian para sahabat bertanya “Termasuk anda, ya Rasulullah?” Termasuk juga aku. Akan tetapi Allah telah membantuku sehingga ia tunduk.”

Begitulah sabda Nabi SAW yang diabadikan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya.

Saking dekatnya, wajar jika setan ini sangat hafal gerak-gerik dan karakter manusia yang disertai. Dia pun ahli dalam menirukan perangai dan tingkah lakunya. Ketika ada orang yang telah mati, lalu beberapa hari kemudian nampak sosok yang sangat mirip dengan si mayit, besar kemungkinan dia adalah setan Qarin.

Lini-Lini Setan


“Wahai Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan Dasim, Setan Provokator menyesatkan mereka semua.” (QS. Al-Hijr: 39)“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al A’raaf: 17)
Begitulah sumpah hidup dan visi utama lblis kepada Allah Ta’ala. Yakni menjadikan ciptaan yang menjadi sebab dikutuk, yaitu Adam (beserta keturunannya), agar bisa menemaninya di neraka kelak. Dalam menjalankan tujuan ini, lblis mengutus dan menempatkan anak buahnya yang ahli di masing-masing tugas.
…(penjelasan selanjutnya ada di postingan selanjutnya)

Ikutilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing dan gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu (maksudnya pegang dengan erat sunnah itu -pen)” (HR. Tirmidzi, ia berkata, “hadits ini hasan shahih”)

Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ittiba’ (mengikuti Rasulullah) tidak akan terwujud kecuali jika amalan itu dikerjakan sesuai syariat dalam 6 (enam) sisi, yaitu :

(1) Sebab. Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari’atkan maka ibadah tersebut termasuk bid’ah dan tidak diterima. Contoh Apabila ada orang yang melakukan shalat tahajud khusus pada malam 27 di bulan Rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ibadah tersebut termasuk bid’ah. Hal ini karena shalat tahajud dikaitkan dengan sebab yang tidak disyariatkan.

(2) Jenis. Ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Contoh Seorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah karena menyalahi ketentuan syari’at dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi dan kambing.

(3) (ukuran) Kadar. Kalau seseorang menambah bilangan raka’at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan maka shalat tersebut termasuk bid’ah dan tidak diterima karena tidak sesuai dengan ketentuan syari’at dalam jumlah bilangan rakaatnya. Jadi, apabila ada orang mengerjakan shalat zhuhur 5 (lima raka’at dengan sengaja maka shalatnya tidak Sah.

(4) Kaifiyah (cara). Seandainya ada orang berwudhu dengar cara membasuh tangan lalu muka maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syari’at.

(5) Waktu. Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan Dzulhijjah maka tidak sah karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam.

(6) Tempat. Jika ada orang beritikaf bukan di masjid maka tidak sah karena tempat i’tikaf hanyalah di masjid. Begitu pula, jika ada seorang wanita hendak beri’tikaf di dalam mushalla di rumahnya maka tidak sah karena tempatnya tidak sesuai dengan ketentuan syari’at. (Disarikan dari Risalah Al lbda’ fii Bayani Kamalisy Syari wa Khothorul lbtida karya Syaikh Utsaimin hal. 21-24)

Kaidah Untuk Mengetahui Bid’ah


Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan bahwa terdapat kaidah penting agar kita dapat membedakan sunnah nabi dan bid’ah, antara lain : 

(1) Kaidah pertama, hukum asal ibadah adalah tidak dilakukan sampai ada dalil yang mensyariatkannya karena ibadah disyariatkan tanpa alasan logika. Allah Ta’ala berfirman, “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa saja yang dilarang maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr : 7)

(2) Kaidah kedua, andaikan bid’ah yang diadakan itu baik tentu para sahabat Nabi telah melakukannya karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.

(3) Kaidah ketiga, sunnah Nabi terbagi menjadi 2 (dua) yaitu sunnah fi’liyah (Nabi mengerjakan amalan) dan sunnah tarkiyah (Nabi meninggalkan amalan). Mengamalkan amalan yang diamalkan Nabi adalah sunnah dan meninggalkan amalan yang ditinggalkan Nabi adalah sunnah.

(diringkas dari risalah At Tahdzir Minal Bida Wa Awaqibuha Al Wakhimah hal. 14-16 Ikutilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dampak Bid’ah

Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qohthoni hafidzahullah menjelaskan dampak dari bid’ah antara lain :

(1) Mengantarkan pada kekufuran. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga andaikan mereka masuk ke lubang dhob kalian akan mengikuti mereka.” Kami berkata “Wahai Rasulullah, apakah (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?. Beliau menjawab: “Ya, siapa lagi kalau bukan ikut mereka” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Menyebabkan benci tuntunan Nabi dan yang mengamalkannya. Imam Isma’il Ash Shobuni rahimahullah berkata, “Ciri yang paling jelas dari pelaku bid’ah adalah memusuhi orang yang mengamalkan sunnah Nabi dan menghina mereka”.

(3) Menyebabkan amalan tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim)

(4) Menyebabkan dilaknat Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang membuat-buat bid’ah di Madinah atau melindungi pembuat bid’ah maka untuknya laknat Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy Syatibi menjelaskan, “Hadits ini berlaku umum meliputi semua hal-hal yang baru yang menghapus syariat dan bid’ah adalah sejelek-jelek yang baru”.

(5) Memecah belah umat. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan sedikitpun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka (QS. Al An’am 159) (disarikan dari risalah Nurussunnah wa dhulumatul bid’ah karya Dr. Sa’id bin Ali bin WahfAl-Qohthoni hal. 84-91)

Sebab Munculnya Bid’ah


Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah menyebutkan bahwa sebab munculnya bid’ah yaitu :

(1) Bodoh tentang aturan agama. Semakin jauh dari generasi salafus shalih maka semakin sedikit ilmu dan semakin tersebar kebodohan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang masih hidup dari kalian sepeninggalku maka dia akan melihat perselisihan yang banyak” (HR. Tirmidzi ia berkata : “hadits ini hasan shahih”) 

(2) Mengikuti hawa nafsu. Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah” (QS. Al Qashash: 50)

(3) Fanatik kepada pendapat tokoh. Allah Ta’ala berfirman, “Apabila dikatakan kepada mereka ikutilah apa yang telah diturunkan Allah” Mereka menjawab tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami” (QS. Al Baqarah 170)

(4) Meniru orang-orang kafir. Allah Ta’ala menceritakan Bani Israil yang meminta kepada Nabi Musa dalam firman-Nya, “Ketika mereka (Bani Israil) sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka berkata “Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai banyak tuhan (berhala). Musa menjawab “Sungguh kalian adalah orang-orang bodoh”” (QS. Al A’raaf 138) 

(disarikan dari risalah Al Bid’ah Ta’rifuha, Anwa’uha, Akhamuha karya Syaikh Shalih Al Fauzan hal. 18-22)

Definisi dan Dalil Tentang Bahaya Bid’ah

Bismillah. Alhamdulillah wa shalatu wassalamu’ala rasu ah. Amma bandu.

Pembaca yang dirahmati Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya tentang larangan berinovasi dalam agama alias bid’ah. Apa itu bid’ah?

Definisi bi’dah

Menurut bahasa, bid’ah adalah sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya. Menurut istilah syariat, bid’ah adalah sesuatu yang dibuat-buat dalam agama tanpa dalil (Mi’yarul Bid’ah hal. 15 karya Muhamad bin Husain Al Jizani).


Dalil-dalil tentang bahaya bid’ah

Berikut ini beberapa dalil tentang bahaya bid’ah yang diambilkan dari Al Qur’an dan hadits yang shahih.

(1) Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya ini jalanku yang lurus maka ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain yang akan menceraikanmu dari jalanNya “(QS. Al An’am : 153)

(2) Firman Allah Ta’ala, “Apakah mereka memiliki sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan oleh Allah” (QS. Asy Syura : 21)

(3) Firman Allah Ta’ala, “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti selain Nya sebagai pemimpin” (Qs. Al A’raf : 3)

(4) Firman Allah Ta’ala, “Hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul Nya takut akan mendapatkan cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (QS. An Nur : 63)

(5) Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

(6) sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa melakukan suatu yang yang bukan berasal dari kami maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim)

(7) Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Sesungguhnya perkataan terbaik adalah kitabullah dan petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim)

Redaksi Kembang Srengenge


Ngecat rumah….sibuk belanja ke mall….buat kue hantaran….bersih bersih makam….dll

Tradisi masyarakat kita ketika ramadhan, sehingga potensi otak, harta dan tenaga tercurahkan ke arah sana, alangkah indahnya jika potensi itu juga disediakan untuk bagaimana rohani kita terpenuhi dan tercukupi nutrisi gizinya. Wow….kereen jika ummat Islam mempunyai pemikiran yang sama dalam mengisi bulan ramadhan, sudah ada schedule untuk itu, masalahnya otak kita gak sama alhasil kita pun juga tidak boleh terlalu banyak berharap, entar kecewa??!

Tugas kita sebenarnya bisa dikatakan berat tapi ukurannya juga relatif, karena bukan pake ukuran kilo apalagi ton jadi kembali kepada masing-masing individu yang merasa punya kewajiban untuk menyampaikan dan mengaplikasikan pesan cinta dari Allah dan rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat.

Maka, tim redaksi Yayasan Sekar Mentari mengucapkan salam gado-gado untuk semua aktivitas yang kita lakukan baik untuk kemaslahatan ummat atau diri sendiri.

Seluruh karyawan Yayasan Sekar Mentari mengucapkan selamat menunaikan ibadah ramadhan dan semoga semua amal kita di bulan ramadhan diterima di sisi-Nya.

Maju atau Kembali…

Bulan ramadhan, berbagai amal perbuatan akan kita lakukan demi tercapainya pahala di bulan ramadhan. Puasa dalam 1 bulan, berzakat shadaqah, shalat qiyamul lail (shalat tarawih), itikaf, mengaji setiap subuh atau setiap hari, bekerja untuk umat dalam kegiatan-kegiatan tertentu dan banyak hal positif yang kita lakukan.

lalu yang menjadi pertanyaan bagi diri kita adalah …apakah kita bisa mempertahankan itu semua pada hari hari setelah ramadan? Karena usai ramadan juga ada hari yang menanti kita yaitu bulan syawal. Pada bulan ini sebenarnya ujian juga bagi kita apakah kita masih sanggup untuk melakukannya? apakah kita tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah kita????

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Al Baqarah : 207)

Marhaban Yaa Ramadhan

Alhamdulillah segala puji hanya untuk Allah semata. Kita, kami, anda masih bisa berjumpa ramadhan kembali, bulan yang dinantikan ummat Islam di seluruh dunia.

Waktu untuk berbenah diri, waktu untuk memperbanyak amal di banding bulan-bulan yang lain, waktu untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah, amar ma’ruf nahi mungkar lebih ditegakkan, waktu untuk lebih mendekatkan diri dengan sang kholiq, Allah azza wajalla, waktu untuk introspeksi diri, waktu untuk lebih peka terhadap sesama, waktu untuk lebih-lebih-lebih baik lagi.

Ya Alloh hanya kepada-Mu kami tujukan semua amal ibadah kami, karena tujuan kami hanyalah mencari dan mengharap ridho-Mu, bukan semata-mata mencari pahala, biarlah semua itu menjadi urusan-Mu, Engkau Maha menghitung segala sesuatu.

Akhirnya semoga Ramadhan kali ini betul-betul menjadi ladang perjuangan kita semua, Amiin.